Gangguan Psikologis
Gangguan Psikologis
Abnormal
1. Sejarah Singkat Gangguan Psikologis
Pada tahun 460-377 SM, seorang dokter Yunani yaitu Hippocrates yang merupakan tercatat sebagai orang pertama yang menjelaskan perilaku abnormal dengan beberapa proses biologis dengan pernyataan bahwa penyakit antara tubuh dan pikiran merupakan ketidakseimbangan dari cairan tubuh atau yang disebut sebagai humor. Pada masa Renaisans, masyarakat percaya bahwa perilaku abnormal disebabkan oleh kerasukan setan sehingga menyerahkannya kepada sihir, dan mereka akan dihukum dengan kematian. Walaupun ada juga kesepakatan terkait pengobatannya seperti digantung, dibakar, dilempari batu,atau ditenggelamkan sebagai penyihir yang diperkirakan jumlah korbannya mencapai 100.000 orang. (Bastrow dalam Cicarelli, 2015)
2. Konsep Abnormal
Abnormal didefinisikan sebagai perilaku ketidaknormalan yang tidak sesederhana yang tampak. Pertimbangan seorang psikolog dalam menentukan apakah sebuah perilaku abnormal atau tidak, diantaranya (Cicarelli, 2015) :
a. Definisi Statistik Abnormal Perilaku yang sering terjadi akan dianggap normal, dan perilaku yang jarang akan dianggap abnormal. Definisi semacam itu bekerja dengan baik dengan perilaku seperti berbicara dengan orang lain, karena dua kemungkinan yang lebih jarang adalah tidak berbicara dengan siapa pun sama sekali dan berbicara terlalu banyak kepada terlalu banyak orang yang keduanya akan dianggap tidak normal.
b. Penyimpangan Norma Sosial
Melihat seseorang bertentangan dengan norma atau standar masyarakat tempat individu tersebut hidup. Tetapi penyimpangan(variasi) dari norma-norma sosial tidak selaludicap sebagai negatif, perilaku abnormal. Misalnya, seseorang yang memutuskan untuk menjadi biksu dan tinggal di sebuah biara di Amerika Serikat akan menunjukkan perilaku yang tidak biasa, dan tentu saja bukan perilaku standar yang dianggap masyarakat, tetapi itu tidak akan menjadi tanda kelainan.
c. Kenyamanan Subyektif
Salah satu tanda kelainan adalah ketika orang tersebut mengalami banyak ketidaknyamanan subjektif, atau tekanan emosional saat terlibat dalam perilaku tertentu. Seorang wanita yang menderita ketakutan untuk pergi ke luar rumah, misalnya, akan mengalami banyak kecemasan ketika mencoba meninggalkan rumah dan kesusahan karena tidak bisa pergi.
d. Ketidakmampuan Berfungsi Secara Normal
Perilaku yang tidak memungkinkan seseorang untuk menyesuaikan diri dengan masyarakat atau berfungsi secara normal juga dapat diberi label abnormal. Perilaku semacam ini disebut maladaptif, artinya orang tersebut merasa sulit untuk beradaptasi dengan tuntutan kehidupan sehari-hari. Perilaku maladaptif mencakup perilaku yang pada awalnya dapat membantu seseorang mengatasi tetapi memiliki efek berbahaya atau merusak.
e. Perspektif Sosiokultural
Apa yang normal di satu budaya mungkin tidak normal di budaya lain. Dalam perspektif sosiokultural abnormalitas, perilaku abnormal (dan juga perilaku normal) dilihat sebagai produk dari pembentukan perilaku dalam konteks pengaruh keluarga, kelompok sosial tempat seseorang berada, dan budaya di mana keluarga dan kelompok sosial berada.
Models Of Abnormality
1. Model Abnormalitas
Gangguan psikologis memiliki penyebab biologis atau medis (Gamwell & Tomes, 1995). Model ini menjelaskan gangguan seperti kecemasan, depresi, dan skizofrenia yang disebabkan oleh ketidakseimbangan kimia, masalah genetik, kerusakan dandisfungsi otak, atau beberapa kombinasi dari penyebab tersebut.
2. Model Psikologis
Meskipun penjelasan biologis dari gangguan psikologis berpengaruh, mereka bukan satu-satunya cara atau bahkan cara pertama di mana gangguan dijelaskan. Beberapa model psikologis menjelaskan perilaku yang tidak teratur sebagai akibat dari berbagai bentuk gangguan fungsi emosional, perilaku, atau yang berhubungan dengan pikiran.
3. Perspektif Biopsychosocial
Dalam beberapa tahun terakhir, pengaruh biologis, psikologis, dan sosial budaya pada kelainan tidak lagi dilihat sebagai penyebab independen dari perilaku abnormal. Sebaliknya, pengaruh-pengaruh tersebut berinteraksi satu sama lain sehingga menimbulkan berbagai bentuk gangguan. Misalnya, seseorang mungkin memiliki kecenderungan yang diturunkan secara genetik untuk suatu jenis gangguan, seperti kecemasan, tetapi mungkin tidak mengembangkan gangguan besar-besaran kecuali keluarga dan lingkungan sosial menghasilkan stresor yang tepat pada waktu yang tepat dalam perkembangannya.
DSM-IV-TR
Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder (DSM) merupakan edisi pertama yang diterbitkan pada tahun 1952 yang bertujuan untuk membantu para psikolog untuk mendiagnosis gangguan psikologi. Menurut APA (2000), saat ini DSM juga disebut dengan Manual Diagnostik dan Statistik Ganggua Mental,edisi keempat,revisi teks.
a. Kategori Dalam DSM-IV-TR
- Aksis I
- Aksis II
- Aksis III
- Aksis IV
- Aksis V
ANXIETY DISORDERS
Kecemasan merupakan salah satu bentuk gangguan yang gejalanya sering terjadi. Kecemasan tersebut dapat berbentuk suatu hal yang spesifik,seperti rasa takut terhadap suatu objek tertentu atau suatu emosi yang umum,seperti kekhawatiran yang tidak beralasan. Menurut Tangkudung dan Mylsidayu (2017), suatu gejala psikologis yang memiliki ciri perasaan negatif adalah kecemasan. Kecemasan dapat terjadi ketika ada suatu hal yang dapat menekannya secara berlebihan. Kecemasan dapat berdampak buruk ketika hal tersebut seringkali terjadi. Biasanya, kecemasan timbul dengan sendirinya atau gabungan dari berbagai gangguan emosi (Ramaiah,2003).
a. Gangguan Fobia
salah satu gangguan yang sering kita jumpai dalam masyarakat. Fobia adalah suatu gangguan berupa rasa takut yang berlebihan dan berangsur-angsur terhadap suatu hal, dapat berupa objek atau kondisi yang melibatkan hubungan sosial. Misal, fobia terhadap suatu binatang. Jika ada seseorang dengan sengaja memberikan bianatang tersebut pada penderita, maka hal tersebut dapat memicu rasa takut dan cemas yang berlebih. Sehingga, dapat membuat penderita menjadi trauma.
b. Gangguan Kecemasan Sosial
Gangguan kecemasan sosial atau fobia sosial merupakan salah satu gangguan yang melibatkan rasa takut untuk berbaur dengan individu lainnya atau berada dalam lingkungan sosial. Fobia sosial juga merupakan salah satu gangguan kecemasan yang sering dialami oleh individu (WHO Interational Consortium in Psychiatric Epidemology,2000). Individu yang menderita gangguan tersebut memiliki rasa takut jika dikomentari orang lain, sehingga mereka lebih baik menghindari lingkungan yang dapat menekan mereka. Macam-maca fobia sosial yang sering kita temui adalah demam panggung, takut berbicara di depan publik, dan tidak bisa sendirian. Tidak perlu diragukan lagi ketika penderita gangguan tersebut memiliki pengalaman pemalu pada masa kecil (Sternberger et al.,1995).
c. Fobia Spesifik
salah satu gangguan yang melibatkan ketakutan di luar nalar kita terhadap suatu objek atau kondisi tertentu, seperti takut dengan darah (hematophobia), takut dengan ketinggian (acrophobia), dll.
d. Agoraphobia
Menurut APA (2000),agorafobia adalah salah satu gangguan kecemasan yang melibatkan penderita memiliki rasa takut,khawatir,panik, dan malu terhadap suatu tempat atau kondisi tertentu,seperti dalam keramaian yang tidak memiliki peluang untuk menghindar ketika terjadi sebuah kesalahan. Misal, kasus fobia tersebut yang berlebihan dapat membuat keadaan rumah seseorag menjadi penjara,dimana seorang tersebut tidak dapat pergi bekerja,berbelanja,atau aktivitas lainnya yang berada di luar rumah.
e. Gangguan Obsesif Kompulsif (OCD)
Gangguan obsesif kompulsif atau OCD adalah salah satu gangguan mental yang melibatkan pikiran tidak dapat terkendalikan dan terjadi secara berulangulang (obsesi), seperti perfeksionis dengan kesempurnaan dalam semua aspek kehidupannya. OCD juga melibatkan sebuah perilaku paksaan yang terjadi berulang kali (kompulsif),seperti mencuci tangan berulang kali setiap memegang suatu benda. Gejala dari OCD yang sering kita jumpai adalah pikiran yang terpaku dalam hal-hal kecil,perfeksionisme yang berlebihan,dll.
f. Gangguan Setres Akut (ASD) dan Gangguan Stres Pascatrauma (PTSD)
suatu gangguan pada kondisi kesehatan mental yang terjadi karena adanya pengalaman traumatis. Gejala gangguan tersebut berlangsung dalam waktu 4 minggu sesudah melewati pengalaman traumatis yang diidap oleh penderita. Gangguan tersebut melibatkan adanya kecemasan , tidak memiliki emosional yang baik,memiliki masalah dalam waktu tidur,dll.
g. Gangguan Kecemasan Umum
Gangguan kecemasan umum merupakan salah satu gangguan yang tidak memiliki kejelasan sumber eksternal dan gangguan tersebut biasanya dialami oleh individu-individu yang memiliki kecemasan yang belebihan, sehingga berlangsung kurang dari atau setidaknya 6 bulan. Gejala yang sering dijumpai, yakni mudah lelah,merasa tegang, sulit berkonsentrasi, mengalami masalah dalam waktu tidur,dan gejala setres lainnya. Gangguan ini biasanya melibatkan gangguan kecemasan dan depresi lainnya
Penyebab Gangguan Kecemasan
Menurut psikologi kognitif , gangguan kecemasan merupakan sebuah dampak dari proses pemikiran yang tidak masuk akal. Hal tersebut merupakan salah satu gejala penderita gangguan kecemasan yang sering ditemukan (Beck,1976,1984). Selain pemikiran irasional, faktor biologis juga merupakan salah satu dampak dari adanya gangguan kecemasan, misal terdapat ketidakseimbangan antara beberapa neurotransmitter dalam sistem saraf serta melibatkan tingkat serotonin dan GABA yang lebih rendah (Brawman-Mintzerd&Lydiard,1997;Rynn et al., 2000). Apabila neurotransmitter lebih rendah, maka hal tersebut dapat mengurangi kemampuan individu untuk meredakan stress.
Somatoform Disorders
Gangguan somatoform adalah suatu gangguan yang melibatkan penderita memiliki gejala somatik atau cemas dengan kelainan bentuk yang belum diketahui penyebabnya oleh medis dan gangguan psikologi lainnya, seperti setres atau kecemasan lainnya. Gangguan ini melibatkan adanya keluhan fisik yang tidak dapat dijelaskan secara medis, seperti nyeri,sakit kepala,mual.dll.
Cara pencegahan terjadinya somatoform adalah:
1) Konsultasi dengan psikolog
2) Psikoterapi
3) Obat-obatan
4) Perubahan gaya hidup
5) Hindari alkohol dan narkoba
6) Berlatih mengelola setres dan relaksasi
7) Aktif secara fisik
DISSOCIATIVE DISORDERS: ALTERED CONSIOUSNESS (GANGGUAN DISOSIASITIF: KESADARAN YANG BERUBAH)
Gangguan disosiatif dapat diartikan sebagai suatu gangguan kepribadian yang dapat dilihat dari adanya perubahan identitas, memori, dan kesadaran individu. Lebih jelasnya, penderita ini sulit untuk mengingat peristiwa atau kejadian yang pernah terjadi pada dirinya seperti melupakan identitas atau membentuk identitas baru. Terdapat beberapa jenis dari gangguan disosiatif: Amnesia Disosiatif, Fugue Disosiatif, gangguan Identitas Disosiatif.
MOOD DISORDERS: THE EFFECT OF AFFECT
Gangguan mood merupakan suatu gangguan emosi dari kesedihan dan keputusasaan mendalam hingga kebahagiaan yang ekstrim. Gangguan ini dapat bersifat ringan, sedang bahkan mencapai ekstrim. Pada individu yang mengalami depresi, individu tersebut akan mengalami suasana hati yang tertekan secara tiba-tiba. Bagi individu yang mengalami depresi mayor, ia akan mengalami depresi sepanjang hari, tidak mampu menikmati aktifitas apapun, merasa lelah, merasa tidak berharga, perubahan berat akibat nafsu makan, sulit tidur atau menjadi terlalu sering tidur. Beberapa penderita juga memungkinkan mengalami delusi dan halusinasi. Beberapa juga memiliki pikiran untuk bunuh diri, termasuk upaya melakukan bunuh diri.
SCHIZOPHRENIA DISORDER
Skizofrenia ini merupakan sebuah penyakit psikologis yang mana sipenderita mengalami kesulitan dalam membedakan antara kenyataa dan fantasi, selain itu penderita juga mengalami gangguan dalam berpikir, berperilaku, persepsi dan emosi dalam dirinya. Penyebab utama schizophrenia umumnya berasal dari gen, namum juga ada sekitar 50 % dari pengaruh lingkungan dalam perkembangannya. Bebarapa gejalanya, yaitu:
a. Delusi
Gejala yang umum pada penyakit skizofrenia adalah delusi, yang mana terjadinya gangguan dalam cara berpikir. Delusi disebut gejala umum dari skizofrenia karena pada umumnya orang menderita skizofrenia mengalami gejala tersebut. Delusia adalah gejala yang berupa keyakinan yang tidak nyata atau palsu mengenai dunia.
b. Halusinasi
Selain itu, penderita skizofrenia juga dapat mengalami halusinasi. Dari halusinasi tersebut mereka dapat mendengar serta melihat hal-hal yang sebenarnya tidak ada.
c. Gangguan emosional Penderita akan mengalami efek datar, yang mana penderita skizofrenia tidak atau sedikit menunjukkan emosi mereka. Namun, mereja juga dapat menunjukkan secara berlebihan emosi yang mereka miliki.
PERSONALITY DISORDER
Personality disorder atau juga dikenal gangguan kepribadian adalah suatu gangguan psikologis yang mempengaruhi penyesuaian dalam kehidupan penderita. Orang yang mengalami gangguan kepribadian akan memiliki pola perilaku yang terlalu kaku serta maladaptif (masalah dalam menyesuaikan diri). Penderita mengalami kekakuan dan tidak mampu untuk beradaptasi karena tuntunan sosial dan lingkungan. Penyebab gangguan kepribadian bisa berasal dari tingkat toleransi stress individu, hubungan keluarga, komunikasi, faktor genetik, dan kognitif serta perilaku.
a. Gangguan Kepribadian Antisosial
Orang yang mengidap gangguan ini , secara tidak langsung melawan masyarakat. Penderita gangguan ini terkadang juga disebut asosiopat, dan Orang dengan gangguan ini cenderung tidak memiliki hati nurani.
b. Gangguan Kepribadian Ambang
Orang yang mengalami gangguan kepribadian ambang meniliki hubungan dengan orang lain secara intens namun. Relative tidak stabil. Mereka sering murung, manipulatif, dan tidak percaya dengan orang lain. Emosi mereka seringkali tidak pantas dan berlebihan, yang mana akan menyebabkan kebingungan dengan gangguan kepribadian histrionik. Mereka juga dapat merasakan fase depresi yang tidak biasa,
Contoh:
1. Teori: Penderita gangguan Hipokondriasis akan selalu menyimpulkan bahwa mereka memiliki penyakit tertentu.
contoh: seorang wanita batuk, kemudian ia akan berpikir ia mengidap Covid, sehingga ia akan membuktikannya dengan melakukan test pcr tetapi ia menyangkal bahwa hasil tersebut adalah negatif.
2. Teori: Cara lain untuk mendefinisikan abnormalitas adalah dengan melihatnya sebagai sesuatu yang bertentangan dengan norma atau standar masyarakat tempat individu tersebut hidup.
contoh: menggunakan pakaian terbuka di daerah yang menjunjung tinggi kesopanan dalam berpakaian
Komentar
Posting Komentar