Sejarah Perkembangan Psikologi
Zaman Yunani Kuno (Ancient Greece)
1.Animisme dan Antropomorfisme
Animisme : mempercayai bahwa benda-benda mati memiliki roh jiwa hidup, roh nenek moyang dikaikan dengan benda-benda yang disekitarnya.
Contoh : menyembah pohon, berhala, dll
Antropomorfisme (Anthropomorphism) : kecenderungan manusia pada zaman yunani kuno untuk meletakkan karakteristik manusia pada hewan danbenda mati lainnya.
Contoh : mitologi yunani yang bergambar setegah manusia dan hewan.
2.Memiliki kepercayaan kepada Sihir
3.Homo Psychologicus
Pada zaman ini manusia sudahmemiliki keingintahuan kepada asal usul tentang manusia
Lama kelamaan pada zaman ini mucullah tokoh-tokoh filsuf yang mengubah pemikiran-pemikiran seperti yang diatas , yaitu
The First Philosophers
-Thales(625 SM)
Salah stau tokoh filsuf awal, yang berdapat untuk menginggalkan kepercayaan kepada sihir dan supranatural, karena menurutnya ada penjelasan yang lebih logis daripada itu. Thales sudah mulai memahami tentang alam dan sudah mengurangi konsep-kosep keyakinan sebelumnya dan ia sangat terbuka mengenai kritikan.
-Anaximander (6120 SM)
-Parmenides(512 SM)
-Pythagoras(580 SM)
-Hippocrates(460 SM)
Ia hidup dalam keluarga yang cukup berilmu, yang mana orang tuanya fokus terhadap ilmu kedokteran, ia juga berkecimpung di dalam ilmu kedokteran tersebut. Pada inti teori Hipocrates yang membawa perubahan adalah memandang tentang gangguan mental. Ia menjelaskan bahwa baik mental maupun fisik dapat di jelaskan menurut faktor-faktor yang ada dilingkungan, bisa dari penyakit turunan, kerusakan organ-organ. Ia menekankan pada teorinya bahwa cairan-cairan tubuh mempengaruhi bagaimana diri kita. Pada zaman ini banyak kaum perempuan mengalami penyakit histeria, pada zaman sebelum ini gangguan tersebut belum di klasifikasikan sebagai gangguan mental, berbeda halnya dengan hippocrates ia melihat gangguan ini sebagai gangguan mental. Histeria pada zaman itu adalah gangguan mental yang disebabkan oleh tekanan mental dari lingkungan sekitar yang menimbulkan gejala-gejala yang sebenarnya tidak dapat dijelaskan secara biologis. Contohnya : ada seseorang yang kakinya merasa kebas namun pada kenyataannya kondisi biologis kakinya tidak ada masalah apapun, ini bisa disebabkan oleh pengalaman traumatis yang terjadi pada dirinya. Namun pada zaman ini Hippocrates hanya sebatas pemikiran bahwa penyakit mental bukan disebabkan oleh sihir dan kepercayaan sebelumnya, belum secara detail penjelasannya. Setelah 500 tahun kemudian, Galen mengembangkan dari teori Hippocrates , bahwa cairan didalam tubuh mempengaruhi diri kita. Galen mengembangkan teori tersebut dan membentuk tipe-tipe kepribadian.
Setelah itu muncullah paham-paham dari sofis (sekelompok filsuf yang hidup serta berkarya pada zaman Socrates), yang memahami bahwa mereka mmpercayai bahwa kebenaran itu tidak bisa hanya satu (relatif).
-Socrates (470 SM)
Ia merupakan filsuf yang mencoba merubah paham dogmatis( kepercayaan hanya terhadap satu kebenaran saja(yang belum tentu benar) yang diberikan orang lain tanpa menganalisis dannhanya ikut-ikutan saja) pada zaman itu. Ia percaya pada sufis bahwa masing-masing individu memilki pemaknaan yang berbeda, dan pengalaman individu itu penting yang dapat mempengaruhi bagaimana cara kita memandang dunia. Namun menurut Socrates kebenaran dapat diambil secara umum, yang diambil dari proses berpikir yang induktif atau dari khusus ke umum. Socrates salah satu ahli yan membuat ada konsep yan dapat dibuat secara induktif . pada zaman ini ketertarikan diri dan orang lain hanya sedikit dan hanya berfokus terhadap kehidupan yang cukup dogmatis, namu dengan paham-paham Socrates yang ia ajarkan kepada murid-muridnya da anak-anak muda, pemerintah pada zaman itu tidak suka dan menolak adanya perubahan karena nyaman dengan suatu hal, Socrates dianggap sebagai orang yang merusak pemikiran anak-anak muda di Yunani. Akhirnya ia dihukum mati pada usia 70 tahun dengan meminum racun.
-Plato (427 SM)
Plato merupakan salah satu murid Socrates yang terkenal.ia mengkritisi pemerintah yang menghukum mati Socrates. Plato mengembangkan teori Socrates tentang konsep. Salah satu teorinya yang terkenal adalah “The Theory of Forms or Ideas”. Pada zaman ini manusia berfokus pada dunia sensori yang berhubungan dengan panca indra, namun menurut plato itu belim tentu dapat menjelaskan segala sesuatunya, yang dilihat belum tentu kebenaran, kita memerlukan sesuatu yang lebih dari itu.
Plato mempercayai apa yang dialami dunia pengindraan selalu berubah dan tidak menetap, akhirnya tidak sempurna dan tidak bisa dijadikan pengetahuan yang menjelaskan sesuatu. Ia menganut bahwa konsep itu abstrak, konsep dapat dipikirkan. Menurut Plato kita tidak bisa hidup hanya melihat dari sensori, tapi perlu menggunakan proses berpikir sehingga terbentuk ide abstrak dalam menjelaskan segala sesuatunya. Plato juga menjelaskan bahwa di jiwa manusia selain memiliki rasional komponen(idea dan form) juga memiiliki emosional dan dorongan, sperti dorongan untuk makan, minum, dll.
-Aristoteles (384 SM)
Ia percaya apapun yang terjadi di dunia ini pasti ada sebab dan akibatnya. Untuk memahami sesuatu ada 4 penyebab yang kita pahami, tidak bisa hanya dari satu sudut pandang saja, yaitu
a. (Material Cause), Kita harus mengetahui apa bahan dasarnya/materialnya.
b. (Formal Cause), Kita harus paham sesuatu itu merepresentasikan bentuk apa, pola atau bentuk yang ingin kita kaji.
c. (Efficient Cause) , Faktor-faktor/dorongan yang mempengaruhi agar sesuatu menjadi makna.
d. (Final Cause), Tujuan dari sesuatu yang dikaji.
Selain itu ia juga membagi dalam teori Hierarchy of Soul, bahwa manusia, tumbuhan dan hewan sama-sama memiliki jiwa. Yang membuat beda adalah di jiwa manusia kita memiliki kemampuan untuk berfikir dan mempunyai pemikiran yang rasional.
Memori dan Recall
Menurut Aristoteles ingatan sangat berkaitan dengan asosiasi, ada basic law of association yang terdiri dari;
1. Law of Contiguity: yang mana manusia cenderung mengingat dengan hal yang terjadi dalam waktu berdekatan dengan hal tersebut, misalnya ketika mengambil rafor lalu dimarahi orang tua, saat kita melihat rafor kita juga ingat dimarahi oleh orang tua.
2. Law of Similarity: manusia cenderung mengingat sesuatu yang mirip dengan suatu hal.
Misalnya: letih-lelah
3. Law of Contrast: manusia cenderung mengingat sesuatu yang berlawanan dengan suatu hal.
Misalnya: Panas-dingin
4.Law of Frequency: kecenderungan manusia untuk mengingat hal yang sering terjadi
Misalnya: selalu belajar(mengulang-ulang), ketika ulangan ingat semua materi yang telah dipelajari
Imagination and Dreaming
Aristoteles mengatakan bahwa Imagination and Dreaming adalah sesuatu yang keadaan consciousness(kesadaraan) yang berbeda.
Misalnya: ketika bermimpi ada sesuatu berbentuk kuda, namun di dunia nyata bentuknya tidak seperti itu seharusnya, tetapi kita mengenali bahwa itu kuda. Imagination dan dreaming keduanya sangat berkaitan dengan sensory experience, apa yan di imajinasikan dan apa yang ada di mimpi kita, biasanya apa yang pernah kita terima di pengalaman sensori kita walaupun secara sadar maupun tidak sadar.
Motivation and emotion
Dibahas oleh Aristoteles, dikatakan bahwa kita memiliki dorongan untuk kenyamanan yang dapat menghambat faktor-fakotr tersebut agar tidak dipuaskan saat itu juga, bagaimana rasional dapat mengatur dorongan/faktor tersebut, dan akhirnya memotivasi manusia untuk melakukan sesuatu.
Jadi, kesimpulannya para ahli pada zaman yunani kuno sudah mendorong adanya keingintahuan untuk berfikir.
Zaman Abad Pertengahan (Rome and Middle Ages)
Kekuasaan terbesar dikuasai oleh kerajaan romawi, di masa ini agama-agama yang kita kenal sudah muncul dan perkembangannya pesat. Salah satu agama yang lebih dahulu muncul adalah kristen di Roma. Ketika agama masuk akan mempengaruhi tingkah laku dan proses berpikir. Di masa ini kehidupan manusia belum terlalu baik. Di masa ini para ahli filsuf pokok kajiannya mengenai kita sebagai manusia untuk memiliki hidup yang lebih baik harus seperti apa dan bagaimana. Banyak muncul kaum skeptis, yang mana mereka mencoba mempertanyakan segala sesuatu hal, namun bukan menyalahkan. Kemudian lahirlah juga kaum Cynicism, yang mana kaum yang memandang segala sesuatu sebagai sesuatu yang negatif dan menolak memandang segala sesuatu, yang akhirnya mereka terlalu mengikuti kebebasan. Lalu muncullah kaum Stoicism yang mana aliran yang menerima dan akhirnya tidak sinis dan mereka tahu bahwa ada hal-hal yang tidak bisa dirubah dan yang bisa dirubah, fokus terhadap hal-hal yang dapat kita kotrol. Setelah itu muncullah agama, namun agama disalah gunakan oleh berbagai pihak, akhirnya masyarakat tidak percaya lagi. Yang mana zaman ini disebut Dark Ages dimana gereja menjadi tempat penyalahgunaan kekuasaan dan agama (dibagian roma dan eropa). Dibagian dunia lain mulainya dikenal agama islam dan di sebarkan di berbagai belahan dunia, 100 tahun kemudian stelah nabi lahir islam semakin berkembang dan di masa dark ages eropa ilmuan islam yang paling berkontribusi terhadap ilmu pengetahuan adalah ibnu sina atau dikenal Avicenna oleh orang barat. Beliau tidak hanya membahas hal-hal medis kedokteran namun juga membahas hal-hal yang berkaitan dengan proses berpikir, ganggu mental dan pengobatan bagi orang-orang yang mengalami gangguan kejiawaan. Kemudian ada Ibnu Rushd yang dikenal Averroes, dan juga ada dari yahudi yaitu Maimonides,pada saat itu khususnya di Spanyol akhirnya islam masuk dan hidup berdampingan dengan yahudi. Lama kelamaan manusia telah mempercayai agama dan masuk ke masa Renaissance, yang mana orang-orang yang korup berkedok agama sudah mulai bisa membedakan agama dengan orang yang mengatas namakan agama tetapi berbuat yang tidak baik, kemudian dapat menjelaskan konsep ketuhanan dan pengetahuan. Di masa ini masyarakan juga mempelajari ilmu-ilmu tentang manusia, bagaimana manusia mempergunakan kemampuan yang diberikan oleh tuhan secara optimal.
Rene Descrates
Mengatakan bahwa pikiran dan tubuh itu terkoneksi. Apa yang kita pikirkan akan mempengaruhi fungsi biologis dan dimediasi oleh otak

Komentar
Posting Komentar