Sexuality and Gender
A. The Physical Side of Human Sexual
1. The Primary Sex Characteristic
Karakteristik seks primer pada manusia terlibat secara langsung dengan reproduksi manusia, yaitu organ seksual, yang sudah ada sejak lahir dan terus berkembang sampai sampai masa pubertas. Perempuan memiliki karakteristik seperti vagina (saluran yang mengarah dari luar tubuh menuju pangkal rahim), rahim, dan ovarium (kelenjar seks pada wanita). Sedangkan karakteristik seksual primer pada laki-laki adalah penis (organ yang berfungsi sebagai alat untuk laki-laki buang air kecil dan menyalurkan spermanya), testis (kelenjar seks pada laki-laki), skrotum (kantong yang melapisi testis), dan kelenjar prostat (kelenjar yang mengeluarkan cairan yang mengandung sperma).
2. The Secondary Sex Characteristic
Karakteristik seks sekunder hanya berkembang selama masa pubertas dan tidak berperan langsung dalam reproduksi manusia. Fungsi dari karakteristik ini adalah untuk membedakan antara perempuan dengan laki-laki, hal yang menarik bagi lawan jenis, memastikan berjalannya aktivitas seksual dan reproduksi, dan kadang-kadang berperan sebagai kebutuhan fisik untuk reproduksi. Masa pubertas pada perempuan terjadi pada saat usia 10-12 tahun dan berakhir setelah satu tahun menstruasi. Ciri-ciri lainnya adalah pembesaran payudara, pinggul yang melebar untuk memudahkan proses persalinan, tumbuhnya rambut-rambut halus di sekitar kemaluan, dan penambahan lemak di bagian paha dan pantat. Masa pubertas pada laki-laki terjadi lebih lambat sekitar 2 tahun dibandingkan dengan perempuan, akan tetapi pertumbuhan pada laki-laki akan terus terjadi hingga akhir masa remaja. Karakteristiknya adalah suara yang bertambah berat, munculnya rambut-rambut halus pada wajah, dada, dan kemaluan, dan tekstur kulit yang lebih kasar. Selain itu,juga pertumbuhan tinggi badan yang lebih cepat daripada perempuan.
B. Gender
1. Peran Gender
Gender adalah aspek psikologis berupa maskulin maupun feminin dan dipengaruhi oleh kebudayaan, kepribadian seseorang, dan identitas pribadi. Gender dijadikan sebagai harapan budaya terhadap seseorang sebagai laki-laki atau perempuan, baik tindakan, sikap, sifat dan kepribadian yang berkaitan dengan gender dalam budaya tertentu (Tobach, 2001; Unger, 1979). Proses perkembangan gender seorang individu dapat dipengaruhi oleh faktor biologis dan lingkungan, seperti pola asuh dan perilaku mengasuh. Dalam sebuah penelitian, 25 orang anak laki-laki yang dilahirkan secara genetik dengan alat kelamin yang ambigu dibesarkan dan diarahkan untuk menjadi seorang perempuan. Tetapi setelah anak ini beranjak remaja, mereka menyukai kegiatan-kegiatan yang dilakukan remaja laki-laki nomal lainnya seperti olahraga, dan hasilnya 14 dari 25 anak tersebut menyatakan bahwa mereka adalah seorang laki-laki (Reiner, 2000).
2. Pengaruh biologis terhadap gender
Tidak hanya karakter seksual eksternal yang memiliki perbedaan yang jelas terhadap jenis kelamin, tetapi hormon seorang laki-laki dan wanita juga sangat berbeda. Beberapa peneliti menganggap bahwa hormon tidak hanya memengaruhi pembentukan organ seksual pada janin, tetapi juga pembentukan perilaku bayi. Dalam penelitian, bayi perempuan terpapar androgen sebelum mereka lahir, misalnya obat penggugur kandungan yang mengandung hormon laki-laki. Ketika kanak-kanak, anak perempuan ini lebih senang bermain bersama anak laki-laki daripada anak perempuan, memainkan permainan laki-laki, dan bersikap kasar. Tetapi, ketika mereka sudah beranjak dewasa, mereka bersikap lebih perempuan setelah berkeinginan untuk menikah dan menjadi ibu, sehingga peneliti menemukan bukti bahwa pengasuhan menang atas pengaruh hormonal.
3. Pengaruh lingkungan terhadap gender
Bagi sebagian kebudayaan, ketidaksuaian karakter dengan gender seseorang menjadi hal yang aneh atau tabu. Pada sebagian besar budaya Barat, seorang lelaki memiliki tekanan untuk menjadi maskulin lebih besar daripada perempuan untuk menjadi feminin. Perempuan tomboi tidak dianggap sebagai hal yang salah, tetapi laki laki feminin atau banci dinilai sebagai hal yang sangat hina. Penelitian menunjukkan bahwa meskipun orang tua memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap gender anak mereka, para ayah juga akan sangat memerhatikan anak laki-lakinya jika anak tersebut menunjukkan perilaku gender laki-laki daripada anak perempuannya yang menunjukkan perilaku gender perempuan.
4. Budaya dan gender
Budaya juga termasuk dalam pengaruh lingkungan. Penelitian terbaru mengenai budaya ini menunjukkan bahwa kebudayaan yang lebih bersifat individualistik dan memiliki standar hidup yang tinggi memiliki pandangan yang non-tradisional, terutama untuk perempuan. Sedangkan budaya yang kolektif dan memiliki kekayaan yang lebih rendah menunjukkan pandangan tradisional, meskipun perempuannya lebih kurang tradisional daripada laki-laki.
C. Keterkaitan unsur seksualitas dan gender dengan ilmu psikologi
Masyarakat pada umumnya membedakan peran gender dalam kehidupan dengan anggapan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki perbedaan kapasitas dan kemampuan. Sehingga psikologi gender melakukan beberapa penelitian untuk membuktikan kebenaran anggapan tersebut.
1. Melhuish, dkk berhasil membuktikan bahwa jenis kelamin tidak berpengaruh secara signifkan terhadap kemampuan matematis. Mereka menjelaskan bahwa perbedaan kemampuan tersebut dipengaruhi oleh keadaan sosial ekonomi, pendidikan yang efektif, lingkungan belajar dan tingkat pendidikan ibu (Bosson dkk., 2018; Melchuish dkk., 2008)
2. Mehl, dkk melakukan penelitian tentang perempuan yang lebih banyak bicara dibandingkan dengan laki-laki. Dari penelitian tersebut, ditemukan bahwa tidak ada perbedaan jumlah kata yang diucapkan sehari-hari antara laki-laki dengan perempuan. Percobaan lain yang dilakukan oleh Leaper dan Smith menunjukkan bahwa perbedaan kecil jumlah kata yang diucapkan pada laki-laki dan perempuan tergantung pada usia. Dimana anak perempuan yang berumur dibawah tiga tahun lebih banyak mengucapkan kata-kata dibanding anak laki-laki seumurannya (Bosson dkk., 2018).
D. Human Sexual Behavior
Perilaku seksual manusia merupakan bagian sistem biologis manusia yang tidak dapat dipisahkan dari perkembangan kehidupan suatu individu. Berdasarkan bentuk sistem reproduksi, manusia dikelompokkan dalam 2 macam gender, yaitu Pria dan Wanita. Coon dan Mitterer (2007) mengatakan pria dan wanita memiliki perbedaan perkembangan karakteristik seksual yang dimilikinya. Yang pertama pada Primary sexual karakteristiknya yang ditunjukkan pada perkembangan organ reproduksi ,dimana pada wanita perkembangan difokuskan pada perubahan ukuran di bagian ovarium, vagina, dan rahim. Sedangkan pada pria perkembangan difokuskan pada perubahan dan perkembangan penis, testis, dan skrotum.
Secara umum, bentuk – bentuk perilaku seksual yang dilakukan pria dan wanita memiliki 4 fase yaitu :
1. Touching, merupakan fase yang umum dilakukan seperti berpegangan tangan atau berpelukan baik dengan yang berbeda gender atau dengan sesama gender.
2. Kissing, merupakan tahapan selanjutnya setelah bersentuhan dimana merupakan ciuman mulai dari ciuman biasa saja sampai ciuman dengan menggunakan lidah (Deep Kissing).
3. Petting, merupakan tahapan foreplay mulai dari rabaan pada bagian tubuh sampai gesekan pada organ genital.
4. Tahapan akhir adalah hubungan seksual.
E. Sexual Response
4 tahapan bentuk respon seksual:
1. Tahapan Excitement, Merupakan tahapan awal dari persiapan hubungan seksual yang bisa berlangsung antara 1 menit sampai 1 jam. Ditandai dengan peningkatan denyut jantung, tekanan darah, semakin cepatnya laju pernapasan serta perubahan warna kulit menjadi agak 1. Tahapan Excitement, Merupakan tahapan awal dari persiapan hubungan seksual yang bisa berlangsung antara 1 menit sampai 1 jam. Ditandai dengan peningkatan denyut jantung, tekanan darah, semakin cepatnya laju pernapasan serta perubahan warna kulit menjadi agak kemerahan terutama di bagian dada atau wajah.
2. Tahapan Plateau, Pada tahapan kedua ini perubahan fisik karena respon seksual.
3. Tahapan Orgams, Pada tahapan ketiga ini dikenal sebahai tahapan yang paling singkat yang melibatkan rangkaian kontraksi otot ritmis yang dikenal dengan orgasme.
4. Tahapan Resolution, Tahapan ini merupakan tahapan pengembalian kondisi tubuh ke keadaan sebelum hubungan seksual di mulai.
F. Sexual Dysfunction and Problem
Secara garis besar gangguan aktivitas seksual juga dipengaruhi oleh faktor psikologi seperti tingkat stress dan kecemasan individu. Selain itu, walaupun bukan penyebab umum disfungsi seksual, faktor lain yang dapt mempengaruhi adalah perilaku alamiah manusia itu sendiri. Menurut American Psychiatric Association (2013) dalam Ciccarelli dan White (2015) ada perilaku disfungsi seksual yang disebut Paraphilia, yaitu seseorang baru bisa mencapai gairah dan kepuasan seksual melalui suatu perilaku seksual yang sebenarnya tidak dapat diterima masyarakat. Contohnya sadisme, pedofilia dsb.
G. Penyebab terjadinya disfungsi seksual pada individu
1. Organic factors atau faktor organik yaitu karena adanya efek samping dari obat- obatan tertentu yang dikonsumsi, efek dari tindakan operasi yang dilakukan sebelumnya, adanya kondisi disabilitas, ataupun efek konsumsi obat dan minuman seperti alkohol, kokain, nikotin, dan sejenisnya.
2. Sociocultural factors atau faktor sosial budaya dimana pengaruh lingkungan tempat tinggal dapat menyebabkan disfungsi seksual.
3. Psychological factors atau faktor psikologis yang terkait dengan masalah mental yang dialami oleh individu seperti kurangnya rasa kepercayaan diri terhadap bentuk tubuhnya, depresi terkait dengan permasalahan yang dihadapi, ataupun adanya trauma atas serangan seksual yang merugikan individu pada masa kecil atau saat masa pertumbuhannya yang pada akhirnya melahirkan disfungsi seksual pada individu tersebut.
H. Infeksi penyakit seksual menular pada individu
Infeksi penyakit seksual merupakan akibat dari adanya kegiatan seksual yang kurang atau tidak mengikuti kesehatan organ seksual. Contohnya penyakit sifilis (luka pada daerah kelamin, mulut, atau dubur), gonore (kencing nanah), Human Papillomavirus (HPV), infeksi HIV ataupun AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrom) dan lain sebagainya. Perilaku disfungsi seksual juga bisa menyebabkan infeksi penyakit seksual contohnya penyakit gonore dan sifilis yang dapat disebabkan karena disfungsi seksual dimana penderitanya baru memiliki gairah dan mencapai kepuasan seksual saat menggunkan seks oral atau anal terlalu sering disertai adanya perilaku berganti – ganti pasangan dalam berhubungan.
contoh penerapan:
1. Pengaruh lingkungan terhadap gender: pada budaya Barat, seorang lelaki memiliki tekanan untuk menjadi maskulin lebih besar daripada perempuan untuk menjadi feminin.
2. Psychological factors atau faktor psikologis disfungsi seksual : kurangnya rasa kepercayaan diri terhadap bentuk tubuhnya, depresi terkait dengan permasalahan yang dihadapi
Komentar
Posting Komentar