Psikologi Sosial
A. Social Influence
Social influence (pengaruh sosial) adalah bentuk interaksi secara langsung ataupun tidak langsung yang mempengaruhi perilaku, perasaan, dan pemikiran masing-masing individu. Social influence meliputi, conformity, compliance, dan obediance.
1. Conformity (Konformitas)
Konformitas adalah suatu usaha untuk mengubah perilaku seseorang menjadi lebih cocok dengan perilaku atau tindakan orang lain. Salah satu faktor penyebab seseorang merasa perlu untuk menyesuaikan diri adalah pengaruh sosial normatif, kebutuhan untuk bertindak dengan cara yang kita rasa akan membuat kita disukai dan diterima oleh orang lain (Hewlin, 2009; Kaplan & Miller, 1987). Faktor lainnya adalah pengaruh sosial informasional dimana kita mengambil isyarat tentang bagaimana berperilaku dari orang lain ketika kita berada dalam situasi yang tidak jelas atau ambigu (Isenberg, 1986). Dalam hal ini, perilaku orang-orang di sekitar kita memberi kita informasi tentang bagaimana kita harus bertindak, dan karena itu kita menyesuaikan diri dengan tindakan mereka.
2. Complience
Complience terjadi ketika orang mengubah perilaku mereka sebagai akibat dari orang atau kelompok lain yang meminta atau mengarahkan mereka untuk berubah. Orang atau kelompok yang meminta perubahan perilaku biasanya tidak memiliki otoritas atau kekuatan nyata untuk memerintah perubahan. Namun, ketika otoritas tersebut ada dan perilaku diubah sebagai hasilnya, itu disebut dengan kepatuhan.
3. Obedience
Obedience adalah suatu bentuk kepatuhan (pengubahan perilaku) karena suatu perintah langsung dari otoritas yang berwenang. Ada perbedaan antara konsep kepatuhan, yaitu setuju untuk mengubah perilaku karena orang lain meminta perubahan, dan mengubah perilaku seseorang atas perintah langsung dari figur otoritas. Figur otoritas adalah orang dengan kekuatan sosial seperti polisi, guru, atau supervisor kerja yang memiliki hak untuk menuntut perilaku tertentu dari orang-orang yang berada di bawah komando atau pengawasannya.
B. Social Cognition
1. Attitudes (Sikap)
Sikap adalah kecenderungan untuk merespon secara positif atau negatif terhadap suatu ide, orang, objek, atau situasi tertentu (Triandis, 1971). Sikap bukanlah kemampuan yang didapatkan dari lahir, namun harus dipelajari dari pengalaman dan interaksi.
-Komponen Sikap
1. Affective Component (Komponen Afektif)
2. Behavior Component (Komponen Perilaku)
3. Cognitive Component (Komponen Kognitif)
-Attitude Formation (Pembentukan Sikap)
1. Melalui kontak langsung dengan orang, gagasan, situasi, atau objek yang menjadi
fokus sikap.
2. Melalui instruksi langsung, baik dari orang tua atau orang lain. Contohnya adalah
orang tua yang memberi tahu anaknya bahwa merokok itu berbahaya dan tidak sehat.
3. Melalui interaksi dengan orang lain. Terkadang sikap terbentuk karena seseorang
berada di sekitar orang lain dengan sikap tersebut. Misalnya, ketika seseorang berada
dalam suatu kelompok yang semua anggotanya berprinsip pada sikap bahwa merokok
itu keren, maka orang tersebut juga cenderung berpikiran yang sama bahwa merokok
itu keren.
4. Melalui vicarious conditioning (observational learning). Banyak sikap dipelajari
melalui pengamatan terhadap tindakan dan reaksi orang terhadap berbagai objek,
orang, atau situasi. Komponen emosional dari suatu sikap dapat dipelajari dengan
mengamati reaksi emosional orang lain, dan komponen perilaku dapat diamati dan
ditiru.
-Attitide Change (Perubahan Sikap)
Karena sikap itu dipelajari, maka sikap juga dapat berubah dengan adanya pembelajaran
baru. Hal ini berkaitan dengan kemampuan persuasi, yaitu proses ketika seseorang mengubah
keyakinan, pendapat, posisi, atau tindakan orang lain melalui argumen, dll.
-Cognitive Dissonance (Disonansi Kognitif)
Disonansi kognitif adalah ketidaknyamanan emosional sebagai akibat dari terlibat dalam
perilaku yang tidak konsisten dengan kognisi pribadi. Ketika seseorang mengalami disonansi
kognitif, ketegangan dan gairah yang dihasilkan tidak menyenangkan, dan motivasinya
adalah untuk mengubah sesuatu sehingga perasaan dan ketegangan yang tidak menyenangkan
itu berkurang atau dihilangkan.
2. Impression Formation (Pembentukan Kesan)
Pembentukan kesan membuat seseorang memasukkan orang lain ke sejumlah kategori-
kategori umum dan menarik kesimpulan tentang apa yang kemungkinan besar dilakukan
orang itu. Ketika pertama kali bertemu, setiap orang membentuk kesan terhadap orang yang
ditemuinya. Kesan yang diberikan seringkali berdasarkan penampilan fisik saja, meskipun
sebelumnya orang tersebut telah memiliki pendapat lain tentang orang yang ditemuinya
tersebut.
3. Attribution (Atribusi)
Atribusi adalah proses dimana individu menjelaskan penyebab dari berbagai kejadian
dan perilaku orang lain. Fritz Heider adalah orang pertama yang memperkenalkan teori
atribusi. Melalui teori atribusinya, Heider mencoba untuk menekankan bahwa mempelajari
atribusi sangatlah penting karena atribusi memberikan pengaruh pada apa yang dirasakan dan
apa yang dilakukan oleh manusia.
C. Social Interaction
Menurut Ciccarelli dan White (2012), yang termasuk kedalam interaksi sosial yaitu
prejudice and discrimination (prasangka dan diskriminasi), liking and loving (menyukai dan
mencintai), dan aggression and prosocial behaviour (agresi dan perilaku prososial). Prasangka merupakan suatu sikap emosional negatif yang dimiliki individu mengenai sudut pandangnya terhadap suatu kelompok tertentu. Prasangka ini menghasilkan suatu perilaku yang disebut dengan diskriminasi. Perilaku diskriminasi dapat dikendalikan dan dihentikan melalui Undang- Undang yang berlaku, sedangkan sikap prasangka tidak dapat dihentikan. Terdapat beberapa bentuk prasangka dan diskriminasi, yaitu: Rasisme, Ageisme,Heteroseksisme, dan Seksisme. Liking and Loving (Menyukai dan Mencintai), Agar peluang terjadinya hubungan sosial semakin besar, diperlukan yang namanya ketertarikan atau rasa suka. Rasa suka atau tertarik pada seseorang yang kemudian mendorong untuk memiliki hubungan diantara mereka disebut interpersonal attraction. Aggression and Prosocial Behaviour (Agresi dan Perilaku Prososial), Agresi merupakan perilaku yang dimaksudkan menyakiti orang lain, baik secara fisik maupun psikis (Baron & Byrne, 1994; Brehm & Kassin, 1993; Brigham, 1991). Pengertian agresi merujuk pada perilaku yang dimaksudkan untuk membuat objeknya mengalami bahaya atau kesakitan. Perilaku prososial merupakan salah satu bentuk perilaku yang muncul dalam kontak sosial, sehingga perilaku prososial adalah tindakan yang dilakukan atau direncanakan untuk menolong orang lain tanpa mempedulikan motif-motif si penolong (Asih & Pratiwi,2010:1). Terdapat beberapa faktor pendorong perilaku prososial, yaitu :
1. Situasi
Terdapat korelasi negatif antara pemberian pertolongan dan jumlah pengamat, semakin
banyak pengamat, semakin kecil keinginan untuk menolong. Selain pengaruh kehadiran
orang lain, ketika melihat orang lain memberikan pertolongan, maka juga akan hadir
dorongan untuk memberikan pertolongan. Desakan waktu dan kemampuan yang dimiliki
juga menjadi faktor pendorong prososial.
2. Penolong
Faktor keperibadian berpengaruh terhadap keinginan untuk menolong. Misalnya orang
dengan kepribadian yang hanya akan menolong ketika ada orang lain yang melihatnya.
Faktor lainnya adalah mood para penolong. Orang dengan suasana hati yang baik umumnya
lebih mungkin membantu daripada orang yang memiliki suasana hati yang buruk.
3. Penerima pertolongan
Jenis kelamin korban juga menjadi faktor, jika pengamat adalah laki-laki, perempuan
lebih cenderung ditolong laki-laki, namun akan berbeda jika pengamatnya adalah perempuan.
Orang yang menarik secara fisik lebih mungkin untuk mendapat bantuan. Korban yang
terlihat seperti “itu pantas mereka dapatkan: juga kecil kemungkinannya untuk mendapat
bantuan.
Contoh penerapan di kehidupan:
1. Rasisme, membeda - bedakan teman dari etnis yang berbeda.
2. Ageisme, membentuk prasangka buruk (menganggap orang tua kuno)
Komentar
Posting Komentar