Motivasi dan Emosi

Motivasi

Motivasi merupakan adalah suatu dorongan dari dalam maupun luar, yang mengakibatkan seseorang berusaha memenuhi tujuan yang ingin dicapainya (Jauhary, 2019). Menurut Temaluru (2019), proses motivasi muncul disebabkan oleh adanya tiga elemen, yaitu kebutuhan, dorongan, dan insentif. Ketiga elemen itu saling berkaitan dan saling memengaruhi satu sama lain. 

2 Jenis Motivasi yaitu,

1.   Motivasi intrinsik

Motivasi yang timbul dari dari rangsangan dalam diri seseorang, sehingga tidak membutuhkan rangsangan dari luar. 

 2. Motivasi Ekstrinsik

Motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang timbul dari faktor-faktor rangsangan luar

pribadi seseorang.


Pendekatan dan Teori untuk Memahami Motivasi

a. Instincts and the Evolutionary Approach

Pendekatan insting adalah pola perilaku bawaan sejak manusia lahir. Terdapat kekurangan dalam pendekatan ini, yaitu tidak dapat menjelaskan perilaku manusia, hanya bisa menggambarkan saja. Hal inilah yang membuat pendekatan ini memudar seiring perkembangan zaman. Walaupun begitu, idenya yang menganggap bahwa perilaku manusia dikendalikan oleh faktor keturunan, masih eksistensi sampai saat ini (Feldman, 2011).

b. Drive-Reduction Theory

Teori pengurangan dorongan beranggapan bahwa ketika seseorang mengalami ketegangan karena kebutuhan dan gairah, muncul tindakan seseorang untuk mengurangi ketegangan tersebut. Tujuan dari pengurangan ketegangan tersebut adalah homeostatis, yaitu kecenderungan mempertahankan keseimbangan tubuh. Dalam teori ini terdapat dua jenis penggerak, yaitu primary drives dan secondary drives. Primary drives dikaitkan dengan kebutuhan kelangsungan hidup secara biologis, seperti haus dan lapar.

c. Mcclelland’s Theory: Affiliation, Power, and Achievement Needs

Teori ini disebutkan bahwa ada tiga kebutuhan psikologis yang dimiliki manusia, yaitu affiliation, power, dan achievement needs.

1. Need for achievement (nAch): kebutuhan yang melibatkan keinginan kuat untuk berhasil dalam mencapai tujuan, tidak hanya yang realistis tetapi juga yang menantang.

2. Need for affiliation (nAff): keinginan untuk memiliki interaksi sosial dan hubungan yang baik dengan orang lain serta keinginan untuk dihormati oleh orang lain.

3. Need for power (nPow): kebutuhan untuk menguasai orang lain, memengaruhi mereka, dan berdampak pada mereka. Status dan prestise penting bagi orang-orang yang memiliki kebutuhan ini.


d. Humanistik Approach

Menurut Rahman (2018), pada pendekatan Humanistik, teori yang berkaitan dengan motivasi adalah hierarki kebutuhan yang dimiliki oleh Abraham Maslow. Menurut teori ini terdapat lima kebutuhan manusia, yaitu:

1. Kebutuhan fisiologis: kebutuhan dasar yang berkaitan dengan kebutuhan biologis

yang dimiliki manusia. Contohnya kebutuhan akan udara, air, makan, maupun minum.

2. Kebutuhan keamanan: kebutuhan yang timbul karena seseorang membutuhkan

perlindungan, baik dari bahaya fisik maupun emosional. Kebutuhan ini meliputi

kebutuhan akan perlindungan, keamanan, keteraturan, dan rasa takut.

3. Kebutuhan cinta dan kasih sayang: kebutuhan yang meliputi kebutuhan untuk

memiliki teman baik, keintiman, kasih sayang, dan cinta.

4. Kebutuhan harga diri: kebutuhan yang meliputi kebutuhan akan penghargaan, status,

kemandirian, prestasi, dan penguasaan.

5. Kebutuhan aktualisasi diri: kebutuhan yang meliputi kebutuhan untuk merealisasikan

potensi diri.

Maslow mengusulkan hierarki kebutuhan dimulai dengan kebutuhan fisiologis dasar dan diakhiri dengan kebutuhan yang paling akhir yaitu kebutuhan aktualisasi diri. Kebutuhan yang lebih mendasar harus dipenuhi terlebih dahulu, sebelum kebutuhan yang lebih tinggi dapat terpenuhi

e. Arousal Approaches : Need for Stimulation

Pendekatan ini beranggapan bahwa manusia memiliki tingkat level tertentu dalam mencapai suatu motivasi. Motivasi seseorang dipertahankan pada suatu level dengan meningkatkan atau menurunkan rangsangan. Contohnya ketika seseorang memiliki tugas yang mudah, motivasi untuk menyelesaikan tugas itu pun tidak terlalu tinggi karena ia menggampangkan tugas tersebut. Sebaliknya ketika seseorang memiliki tugas yang sulit, motivasi untuk menyelesaikan tugas itu pun tinggi (Ciccarelli, 2017).

f. Incentive Approaches to Motivation

Pada pendekatan insentif, seseorang termotivasi melakukan sesuatu bila ada keuntungan yang akan ia dapatkan. Dapat dikatakan bahwa pada pendekatan ini, motivasi muncul karena adanya stimulus eksternal. Misalnya seseorang mengikuti webinar karena ingin mendapatkan sertifikat dan relasi baru. 


Emosi

Menurut Ndari dkk. (2018), emosi adalah perasaan batin yang dimiliki seseorang akibat stimulus, yang dapat menimbulkan gejala-gejala tertentu seperti takut, marah, cemburu, dan lainnya. Menurut Ciccarelli (2017), emosi memiliki tiga elemen, yaitu gairah fisik tertentu, tindakan yang mengekspresikan perasaan, dan kesadaran batin tentang perasaan. Emosi terbagi menjadi dua, yaitu emosi positif dan emosi negatif. Emosi positif adalah emosi yang membuat seseorang seseorang memiliki perasaan yang positif, karena mengalami hal yang menyenangkan. Sedangkan emosi negatif adalah emosi yang membuat seseorang memiliki perasaan yang negatif karena mengalami hal yang tidak menyenangkan (Rozali, 2008).

Secara umum emosi dapat diartikan sebagai sebuah perasaan atau afeksi yang melibatkan rangsangan fisiologis (seperti denyut jantung), pengalaman sadar (seperti saat jatuh cinta), dan ekspresi perilaku (seperti ekspresi muka tersenyum). Pada saat terjadinya emosi, situasi stimulus dapat melibatkan perubahan pada tubuh, wajah, aktivitas otak, penilaian kognitif, perasaan, dan kecenderungan melakukan suatu tindakan. Selain itu, emosi dapat membantu menyatukan manusia, mengatur jalannya hubungan, dan sebagai motivasi dalam melakukan suatu tindakan.

Macam – Macam Emosi dan Ciri – Ciri Emosi

Emosi terbagi dua yaitu positif dan negatif. Salah satu contoh emosi yang positif ialah senang dan bahagia sedangkan negatif yaitu marah dan sedih (Asrori, 2020). Adapula emosi primer dan sekunder. Emosi primer yaitu emosi yang terbentuk atau dibawa sejak lahir, terdiri dari emosi – emosi yang umum seperti rasa takut, jijik ataupun senang. Sedangakan Emosi sekunder meliputi semua emosi yang mengikuti perkembangan budaya dan berkembang secara bertahap. Emosi dapat pula dikelompokkan menjadi dua bagian yaitu:

1. Emosi sensoris, berasal dari rangsangan luar terhadap tubuh. Contohnya seperti rasa dingin, lelah, dan sakit.

2. Emosi psikis, emosi yang disebabkan oleh kondisi kejiwaan. Contohnya : 

a. Perasaan intelektual, bersangkutan dengan kebenaran seperti perasaan gembira mengetahui sebuah kebenaran atau rasa puas saat menyelesaikan suatu masalah ilmiah.

b. Perasaan sosial, berhubungan dengan orang lain baik secara pribadi maupun kelompok seperti rasa solidaritas dan persaudaraan.

c. Perasaan susila, berkaitan dengan moral, nilai baik dan buruk serta norma seperti rasa tanggung jawab atau rasa bersalah ketika melanggar aturan.

d. Perasaan keindahan (estetis), mengenai keindahan akan sesuatu baik benda maupun rohani.

e. Perasaan ketuhanan, sebagai makhluk Tuhan manusia memiliki insting beragama.


Fungsi Emosi

1. Pembangkit energi (energizer), dengan emosi manusia dapat membangkitkan energi atau mendorong suatu tindakan contohnya rasa iri akan mendorong kita untuk melakukan sesuatu untuk menandingi orang lain.

2. Pembawa informasi (messenger), kita dapat mengetahui kondisi tubuh kita dengan emosi seperti perasaan sedih saat kehilangan seeorang berarti kita tidak suka kehilangannya dan kadang berdampak ke nafsu makan.

3. Komunikasi intrapersonal dan interpersonal sekaligus, seperti orang yang berpidato pesannya akan disampaikan bila menggunakan emosi yang sesuai.

4. Informasi mengenai keberhasilan yang dicapai, ketika kita menang disebuah perlombaan jantung kita berdegup lebih cepat dan merasakan bahagia.

Emosi yang dapat dikontrol dengan baik tentu akan menghasilkan hal baik dari fungsinya dan menjaga tatanan sesuai dengan kebutuhan kehidupan kita.


Teori Emosi

a. James-lange Theory Of Emotion

Menurut teori ini, emosi adalah hasil persepsi seseorang akibat perubahan-perubahan yang terjadi oleh rangsangan yang datang dari luar. Teori ini mengatakan bahwa reaksi fisiologis mengarah pada pelabelan emosi. Contohnya saat seseorang dikejar anjing, ia pun berlari dengan sangat kencang dan jantungnya pun berdebar sangat kencang. Karena disertai debaran jantung, maka timbullah emosi takut. Teori ini mengatakan bukan karena takut kita berlari dan berdebar kencang, namun karena jantung yang berdebar kencang saat berlari kita menjadi takut. Kesimpulannya dalam teori ini, emosi itu muncul akibat rangsangan yang terjadi dalam tubuh kita secara fisiologis berdasarkan persepsi masing – masing (Hude, 2006).

b. Cannon-bard Theory Of Emotion

Teori di mana reaksi fisiologis dan emosi diasumsikan terjadi pada saat yang bersamaan. Psikolog dari Amerika Serikat, Walter Bradford Cannon menentang teori James-Lange sebelumnya. Disertai dengan dukungan dari Philip Bard yang melakukan penelitian. Menurutnya, emosi dihasilkan dari stimulus luar kemudian stimulus inilah yang mengaktifkan hipotalamus. Hipotalamus mengirim output ke dua arah, yaitu organ dalam tubuh dan otot otot eksternal untuk tubuh berekspresi, selain itu mengirim ke korteks serebral di mana pola diterima sebagai emosi yang dirasakan. Namun, walaupun aktivitas otak bagian bawah ini terlibat dengan ekspresi dari emosi, tak dapat dipastikan bahwa kegiatan inilah yang mendasari proses dari emosi (Hude, 2006).

c. Schachter-singer and Cognitive Arousal Theory Of Emotion

Teori ini dikembangkan oleh Stanley Schachter dan Jerome Singer. Two factor theory of emotion merupakan sebutan lain dari teori ini karena menjelaskan bahwa emosi itu terjadi karena dua faktor yaitu perubahan fisiologis dan interpretasi kognitif. Teori ini beranggapan bahwa hal pertama yang dirasakan individu adalah mengalami emosi, setelah itu muncullah perubahan-perubahan yang ada pada dirinya. Teori ini memiliki kritikan, karena tidak selamanya orang terpengaruh pada tingkah laku orang lain atau rangsangan lain dari pengalaman sehari-hari. Contoh dari teori ini adalah pada saat seseorang merasakan adanya emosi kesedihan, lalu direspon otak dan hal itu akan membuat munculnya tindakan seperti menangis, lemas, dan sebagainya (Sobur, 2013). Menurut Atkinson (1991) pengalaman emosional sangatlah rumit dan tidak semudah yang dijelaskan teori schachter – singer, yang tepat disini adalah pengalaman emosi itu dipengaruhi oleh faktor kognitif namun ada faktor lain juga yang mempengaruhinya.

d. Facial Feedback Hypothesis

Teori emosi yang mengasumsikan bahwa ekspresi wajah memberikan umpan balik kepada otak mengenai emosi yang diungkapkan, yang pada gilirannya menyebabkan dan mengintensifkan emosi. Maksudnya ekspresi wajah menggambarkan emosi yang sedang kita alami. Contohnya tersenyum lebar berarti sedang bahagia. Dengan berkembangnya zaman, teori ini juga mengungkapkan bahwa ekspresi wajah juga dapat menyebabkan perubahan emosi itu sendiri (Huffman, 1991).

e. Lazarus and the Cognitive-mediational Theory

Teori emosi ini mengungkapkan bahwa stimulus harus ditafsirkan (dinilai) oleh seseorang untuk menghasilkan respons fisik dan reaksi emosional. Maksudnya, emosi yang dirasakan merupakan hasil persepsi kita pada informasi yang berasal dari lingkungan dan dari dalam tubuh. Dalam hal ini, dapat dikatakan jikalau kita mengalami kejadian yang sama, bisa jadi emosi yang kita punya berbeda dengan orang lain. Hal ini tergantung pada hasil persepsi seseorang terhadap suatu informasi (Ciccarelli, 2017).


Kematangan Emosi

Kematangan dapat diartikan sebagai hasil dari perkembangan fisik dan psikis yang sebagiannya dipengaruhi proses psikologis, sebagian hasil pertumbuhan dan perkembangan serta pembelajaran dan sebagiannya lagi merupakan hasil dari kebudayaan yang ada disekitarnya. Sedangkan kematangan emosi itu sendiri (emotional maturity) menurut Chaplin (1993), ialah kondisi dimana emosional seseorang sudah mencapai tingkat kedewasaan dan tidak lagi memperlihatkan emosional seperti pada anak – anak. Hurlock (1994) menyatakan petunjuk dari kematangan emosional seseorang itu ditunjukkan saat ia akan menentukan suatu tindakan apakah ia menggunakan logika sebelum emosionalnya, tak menunjukan emosional layaknya anak – anak, serta kondisi emosinya yang stabil dan tidak berubah drastis dari suatu emosi ke emosi lainnya yang menunjukkan bahwa ia mampu mengontrol emosinya. Ia juga memaparkan kriteria seorang remaja yang telah matang dalam emosinya :

1. Bisa mengontrol emosinya dan terarah, ia tak meledakkan emosinya begitu saja atau mampu mengontrolnya dan bersikap sesuai dengan yang diterima lingkungan sosial.

2. Stabilitas emosi yang tidak berubah – ubah secara drastis dari satu periode ke periode lainnya.

3. Bersikap kritis terhadap segala situasi dengan pertimbangan yang matang.


Contoh penerapan teori dalam kehidupan sehari-hari

1. Teori: Motivasi yang timbul dari dari rangsangan dalam diri seseorang, sehingga tidak membutuhkan rangsangan dari luar. 

Contoh: Seseorang yang rajin belajar untuk mencapai perguruan tinggi yang diinginkan.


2. Teori: Motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang timbul dari faktor-faktor rangsangan luar

pribadi seseorang.

contoh: anak termotivasi rajin belajar agar juarakelas, demi mendapatkan hadiah dari orang tuanya 


3. Teori: Primary drives dikaitkan dengan kebutuhan kelangsungan hidup secara biologis

contoh: haus dan lapar.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Behaviourisme dan Neobehaviorisme

Pengantar dan Klasifikasi Bidang Psikologi

Sejarah Perkembangan Psikologi