Learning

Learning


1. Definisi Belajar (learning)

Belajar adalah kegiatan perubahan tingkah laku yang relatif permanen yang disebabkan oleh pengalamannya. Maksud “relatif permanen” disini yaitu, mengacu pada kenyataan bahwa saat seseorang mempelajari sesuatu yang mana beberapa bagian otak mereka diubah secara fisik untuk merekam apa yang mereka pelajari. Proses tersebut adalah mengingat, tanpa kemampuan mengingat apa yang terjadi, seseorang tidak dapat mempelajari sesuatu (White & Ciccareli, 2015).


2. Classical Conditioning

Menurut Pavlov (dalam White & Ciccareli, 2015) classical conditioning merupakan metode pembelajaran dimana suatu rangsangan tidak terkondisikan diasosiasikan dengan rangsangan terkondisikan yang kemudian menghasilkan respons tertentu.


Pavlov (dalam White & Ciccareli, 2015)

merumuskan beberapa elemen penting dalam classical conditioning. Elemen tersebut antara lain:

1) UnconditionedStimulus(US).

US adalah rangsangan yang tidak dipelajari atau tidak dikondisikan

dan memunculkan respons tak sadar. Dalam penelitian Pavlov, makanan

anjing disebut sebagai US.


2) UnconditionedResponse(UR)

UR yaitu respon tak sadar atau refleks yang dimunculkan oleh unconditioned stimulus. Respons ini berkaitan erat dengan sistem syaraf. Contohnya adalah air liur anjing.


3) ConditionedStimulus(CS).

CS adalah rangsangan yang telah berhasil dipelajari atau dikondisikan

setelah diasosiasikan dengan UCS berulang kali. Rangsangan ini nantinya akan menghasilkan respons tak sadar yang sama, seperti sebelum dikondisikan. Conditioned stimulus pada penelitian Pavlov adalah bel. Setelah Pavlov mengasosiasikan bunyi bel dan makanan anjing berulang kali, anjing akan mempelajari bahwa jika bel berbunyi artinya akan ada makanan, sehingga timbul respons tak sadar berupa air liur.


4) ConditionedRespons(CR).

CR merupakan respons tak sadar yang ditimbulkan oleh conditioned

stimulus. Dalam hal ini, conditioned respons yang dihasilkan ialah air liur.

Respons yang dihasilkan tidak sekuat unconditioned respons.


Di dalam classical conditioning ini ada beberapa aturan dasar, di antaranya:

1) CS harus mucul sebelum adanya US. Jika pada penelitiannya Pavlov membunyikan bel setelah ia memberi anjingnya makan, maka ini tidak dikategorikan sebagai classical conditioning.

2)CSdanUSharusmunculdalamwaktuyanghampirbersamaan,kurangdari lima detik. Jika tidak, maka tidak akan terjadi asosiasi yang diharapkan.

3) Sebelum conditioning terjadi, stimulus netral harus diasosiasikan dengan

US sesering mungkin.

4)CSbiasanyaberupasesuatuyangunikataumenonjoldaripadaunsur-unsur

di sekitarnya. Misalnya, di laboratorium akan jarang mendengar bunyi bel (White & Ciccareli, 2015).


Operant Conditioning

kunci operant conditioning adalah efek dari konsekuensi yang didapat dari tingkah laku (White & Ciccarelli, 2015). Operant conditioning ialah teori yang mempelajari mengenai tingkah laku voluntary, jika konsekuensinya menguntungkan maka tingkah laku tersebut akan cenderung diulangi dan juga sebaliknya. 


Cognitive Learning Theory

1) EdwardTolman

Teori utama dari Edward Tolman yaitu Latent (hidden) learning. Latent learning adalah belajar yang tidak di wujudkan dalam performance atau belajar yang terbengkalai dalam waktu yang amat panjang sebelum hal tersebut di nyatakan dalam perilaku.

Teori ini didapat melalui percobaan terkenalnya pada 3 kelompok tikus dalam labirin. Pada kelompok 1, tikus ditempatkan pada labirin dan diberikan penguatan berupa makanan pada sisi lain labirin agar tikus tersebut dapat keluar, kelompok 2 tikus ditempatkan pada labirin dan tidak diberikan penguatan sampai pada hari ke-10 percobaan dan kelompok terakhir tidak diberikan penguatan sama sekali. Kelompok tikus 1 selalu memecahkan labirin berbeda dengan tikus kelompok 2 dan 3. Pada tikus kelompok 2 setelah diberikan penguatan pada hari ke-10 mulai mengambil langkah yang sama dengan kelompok 1 dan segera memecahkan labirin. Tolman mendapatkan kesimpulan bahwa tikus pada kelompok 2 memang telah mempelajari dan menyimpan pengetahuannya terhadap labirin ini sebagai “peta mental” atau “peta kognitif” dari tata letak fisik labirin tetapi tidak didemonstrasikan karena tidak memiliki alasan untuk menunjukkan pengetahuannya tersebut sampai ketika mereka diberikan penguatan maka mereka akan menunjukkan pengetahuannya. Tolman menyebutnya sebagai pembelajaran laten (White & Ciccarelli, 2015).


2) WolfgangKohler

Wolfgang Kohler mengemukakan tentang “insight” yang

didapatkan melalui percobaan dengan simpanse. Percobaan yang ia lakukan yaitu dengan meletakkan pisang di luar kandang simpanse, simpanse tersebut memecahkan masalah tersebut dengan mudah. 


3) MartinSeligman

Seligman bersama teman-temannya menemukan fenomena tak

terduga melalui percobaan yang disebut ketidakberdayaan yang dipelajari. Percobaan yang ia lakukan yaitu eksperimen pengkondisian klasik pada 2 kelompok anjing. Anjing tersebut diletakkan pada kotak yang dibagi menjadi 2 kompartemen. Anjing kelompok pertama diikat dan diberikan kejutan/guncangan, sebelumnya anjing tersebut telah diberikan kejutan atau pengalaman akan situasi ini sehingga para peneliti berasumsi bahwa anjing akan belajar takut pada kejutan dan mencoba melepaskan diri sebelum disetrum. Sementara itu, anjing kelompok 2 tidak diikat sehingga ketika diberikan kejutan maka mereka dapat dengan mudah melompati pagar. Para peneliti terkejut dimana anjing kelompok pertama tidak melompati pagar seperti yang dilakukan anjing kelompok 2, mereka malah duduk diam. Anjing yang telah diikat saat dikondisikan telah mempelajari situasi tersebut bahwa tidak ada yang dapat mereka lakukan untuk menghindari kejutan. Jadi ketika mereka ditempatkan pada situasi tersebut anjing-anjing tersebut tetap tidak melakukan apa-apa karena mereka telah belajar untuk menjadi “tidak berdaya” dan percaya bahwa tidak ada yang dapat mereka lakukan (White & Ciccarelli, 2015).


Observational Learning

Observational learning atau pemodelan merupakan suatu sistem pembelajaran yang mana seseorang akan mempelajari dan meniru perilaku yang diperagakan orang lain. Proses peniruan yang dilakukan individu turut melibatkan unsur-unsur seperti bahasa dan pemikiran diri. Dengan sistem kognisinya, individu dapat mempertimbangkan keuntungan atau kerugian yang didapatkan setelah melakukan observasi.


Empat elemen yang harus ada pada observational learning.

1) Attention

Untuk dapat mengamati aksi tertentu, subjek harus memperhatikan

tindakan yang dilakukan peraga dengan fokus.


2) Memory

Subjek mengingat apa yang telah diamati dengan sebaik-baiknya.


3) Reproduceatauimitation

Pengulangan aksi dapat menguji tingkat kemampuan subjek dalam

mengingat aksi yang ditampilkan. 


4) Desire.

Tujuan atau motivasi berperan penting dalam mempengaruhi aksi yang dilakukan subjek, sebagaimana terbukti pada penelitian Bandura. Misalnya, jika terdapat hukuman subjek cenderung enggan untuk melakukan aksi yang ditampilkan. Selain itu, subjek juga akan lebih termotivasi apabila peraga memiliki reputasi yang baik, menarik, dan dapat dipercaya.


Contoh:

1. Observational learning atau pemodelan merupakan suatu sistem pembelajaran yang mana seseorang akan mempelajari dan meniru perilaku yang diperagakan orang lain.

Contoh penerapan teori: saat kita belajar menjahit, ada peraga yang melakukan teknik menjahit agar dapat kita tiru.


2. Latent learning adalah belajar yang tidak di wujudkan dalam performance atau belajar yang terbengkalai dalam waktu yang amat panjang sebelum hal tersebut di nyatakan dalam perilaku.

Contoh penerapan teori: Mahasiswa baru TI yang pada masa SMA nya tidak pernah  belajar mengenai pemrograman. Ketika masuk ke jurusan TI, diharuskan mendapat beberapa pembelajaran bahasa pemrograman. Semester satu mahasiswa belajar bahasa C, ketika lanjut ke semester dua mahasiswa akan belajar PBO, selanjutnya PHP,  dan lain-lainnya. Sampai pada akhirnya mahasiswa tersebut sudah menguasai beberapa bahasa pemrograman, tetapi  belum punya alasan utk menunjukkan pengetahuan itu sebelum sampai ke dunia kerja.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Behaviourisme dan Neobehaviorisme

Pengantar dan Klasifikasi Bidang Psikologi

Sejarah Perkembangan Psikologi