Kognisi
Kognisi
Berpikir
Menurut Ciccarelli dan White
(2011), berpikir atau kognisi adalah aktivitas intelektual di otak saat memproses
sebuah informasi yang meliputi pemahaman, pengaturan, serta pengkomunikasian
informasi tersebut kepada orang lain.
a. Gambar
Mental
Gambar mental adalah penggambaran
suatu objek atau peristiwa di dalam pikiran manusia dengan bentuk yang serupa. Sebuah
penelitian yang dilakukan oleh Stephen Kosslyn mengatakan, ketika diajukan pertanyaan
kepada partisipan, “Apakah katak memiliki bibir dan ekor yang pendek?”. Kebanyakan
partisipan akan membayangkan seekor katak, kemudian dalam pikirannya, mereka
seolah-olah akan memutar posisi katak tersebut untuk memastikan dan
mengidentifikasi apakah katak yang ada dalam pikirannya memiliki bibir dan ekor
yang pendek (Coon & Mitterer, 2007).
b. Konsep
Menurut Ciccarelli dan White (2011),
konsep adalah pikiran yang mewakili kelas objek, peristiwa, atau aktivitas yang
berguna untuk mempermudah seseorang mengidentifikasi suatu objek tanpa perlu memikirkan
bentuk spesifik dari objek tersebut. Misalnya dengan penyebutan kata “buah”,
orang-orang tidak perlu memikirkan jenis-jenis buah yang ada di dunia, meskipun
buah yang dipikirkan oleh orang tersebut berbeda jenis dengan buah yang
dipikirkan oleh orang lain. Konsep dapat dibagi kepada konsep formal dan konsep
alam. Konsep formal yaitu konsep yang telah diatur dengan aturan tertentu. Misalnya
suatu benda dikatakan persegi jika memiliki empat sisi yang sama dan empat
sudut yang berjumlah 360 derajat. Sedangkan konsep alam adalah konsep yang
dibentuk tanpa aturan tertentu. Konsep alam tidak dapat didefinisikan dengan
baik (kabur). Misalnya, seekor platipus yang dikelompokkan sebagai hewan
mamalia karena ia menyusui anaknya. Padahal platipus memilki karakteristik
seperti burung, yakni bertelur, memiliki bulu, dan memiliki paruh (Ciccarelli
& White, 2011).
Prototip yang merupakan gambaran
awal seseorang terhadap suatu hal yang dipengaruhi oleh pengalaman pribadi,
pengetahuan, dan budaya. Misalnya ketika disebutkan kata pohon, maka biasanya
yang akan dideskripsikan pertama kali mengenai tinggi dan sebarannya tanpa menyebutkan
salah satu jenis pohon secara spesifik. Namun, hal ini akan berbeda dengan
orang yang tinggal di daerah yang memiliki banyak pohon kelapa. Jika disebutkan
kata pohon, maka pohon kelapa yang akan terlintas di pikirannya. Dari hal ini
dapat diketahui bahwa prototip berkembang sesuai dengan keterpaparan seseorang
terhadap objek atau pengalaman pribadi (Ciccarelli & White, 2011).
c. Pemecahan
Masalah dan Pengambilan Keputusan
Salah satu metode yang dapat digunakan
untuk pemecahan masalah adalah uji coba-coba atau biasa dikenal dengan trial
and error. Metode ini dilakukan dengan cara melakukan percobaan-percobaan
hingga menemukan solusi yang efektif dan sesuai. Selain itu, ada beberapa percobaan
lainnya yang dapat dilakukan untuk pemecahan masalah, diantaranya algoritma
yaitu melakukan langkah demi langkah percobaan untuk menghasilkan solusi yang
tepat dan benar, seperti menyusun rubik
dengan mengikuti serangkaian
langkah. Selanjutnya adalah heuristik, yakni beberapa solusi yang didasari dari
pengalaman yang diperoleh sebelumnya. Metode ini umunya tidak selalu
menghasilkan solusi yang tepat jika dibandingkan dengan algoritma. Insight atau
“aha!” moments adalah ketika solusi dari suatu masalah muncul secara tiba-tiba
dalam pikiran (Ciccarelli & White, 2011).
d. Masalah
dengan Pemecahan Masalah
Menurut Ciccarelli dan White (2011),
manusia cenderung terfokus pada cara berpikir tertentu dalam mencari solusi
dari sebuah masalah. Padahal sejatinya ada beberapa permasalahan yang dapat
diselesaikan dengan cara-cara yang tidak terduga. Misalnya, ketika ingin
memperbaiki sebuah kerusakan, kita akan mencari alat yang berfungsi untuk memperbaiki
kerusakan tersebut tanpa memikirkan bahwa ada benda pengganti lainnya yang juga
mampu melakukan fungsi seperti alat yang sedang dicari. Hal ini disebut dengan
ketetapan fungsional. Hambatan lain untuk berpikir logis selanjutnya yaitu set
mental. Set mental adalah kecenderungan seseorang untuk memikirkan solusi dari sebuah
masalah berdasarkan keberhasilan solusi yang pernah dicoba di masa lalu.
Selanjutnya hambatan yang terakhir yaitu bias konfirmasi. Bias konformasi yaitu
kecenderungan seseorang untuk mencari informasi dan membenarkan opini yang ia
yakini serta mengabaikan informasi yang kontradiktif. Misalnya, ketika seseorang
meyakini bahwa dirinya adalah orang yang mahir ketika berkendara sambil bermain
ponsel, orang tersebut cenderung akan mengabaikan penelitian yang menunjukkan bahaya
berkendara sambil bermain ponsel karena membutuhkan perhatian pada dua tugas
yang dilakukan serta mengabaikan bukti-bukti yang ada (Ciccarelli & White,
2011).
e. Kreativitas
Kreativitas adalah pemecahan permasalahan
dengan menggunakan solusi yang tidak biasa atau ide baru (Ciccarelli &
White, 2011). Metode yang dapat dilakukan untuk memecahkan masalah adalah
convergent thinking dan divergent thinking. Convergent thinking adalah
pemecahan permasalahan dengan hanya memunculkan sebuah solusi tunggal, misalnya
jika diajukan pertanyaan, “Apa kemiripan yang dimiliki oleh pena dan pensil?”,
maka jawabannya adalah sama-sama digunakan untuk menulis dan memiliki bentuk
yang mirip. Sedangkan divergent thinking adalah kebalikan dari convergent thinking.
Misalnya, jika diajukan pertanyaan, “Apa saja kegunaan yang dimiliki pensil?”,
maka jawabannya akan beragam, seperti menulis, sebagai alat untuk membuat lubang,
serta dapat digunakan sebagai senjata (Ciccarelli & White, 2011). Csikszentmihalyi
pada bukunya mengungkapkan bahwa ada beberapa
ciri orang kreatif, diantaranya orang
kreatif cenderung memiliki pengetahuan yang luas, tidak takut tampil beda
bahkan ia akan sangat terbuka dengan pengalaman baru, serta menghargai
kemandiriannya.
f. Intelegensi
Teori Intelegensi
Setiap individu memiliki kekhususan
tersendiri yang membedakan mereka dengan yang lainnya, salah satunya adalah
intelegensia. Pada tahun 1990-an terdapat dua kelompok yang merumuskan definisi
dari
intelegensia, yaitu Mainstream
Science on Intelligence (MSI), 1994 dan American Psychological Association
(APA), 1995. Intelegensi berdasarkan versi MSI 1994 adalah kemampuan mental
yang umum, seperti berpikir abstrak, memecahkan masalah, cepat belajar, belajar
dari pengalaman, dan menggunakan akal. Sedangkan intelegensi versi APA 1995
adalah perbedaan kemampuan yang dimiliki individu secara spesifik (Sarwono,
2012). Dari dua versi tersebut, intelegensia adalah kemampuan akal yang
dimiliki masing-masing individu.
g. Measuring
intelligence
skala Stanford-Binet 1986 dibagi
atas empat tipe:
·
Penalaran verbal, tes melihat kemampuan kosakata
seseorang
·
Penalaran kuantitatif, tes menggunakan
angka-angka atau kuantitatif
·
Penalaran visual abstrak, tes dengan melihat
objek, seperti melihat kertas
·
Penalaran jangka pendek, tes untuk melihat
memori seseorang dalam menghapal kalimat atau melihat benda.
h. Faktor
Perbedaan Inteligensi Individu
Menurut Sarwono (2012) menyatakan
bahwa hal yang mempengaruhi intelegensi adalah faktor bawaan dan faktor
lingkungan.
1. Faktor Bawaan
Intelegensi seseorang dipengaruhi
oleh orang tua atau dari gen. Teori delinquento natoyang dipelopori oleh Cesare
Lombrosso (1836-1906) menyebutkan “seseorang penjahat sudah mempunyai watak
jahat sejak lahir, dilihat dari tengkoraknya” (Sarwono,2012). Teori ini lebih
kepada fisiogami.Walaupun teori
ini sudah tidak berlaku lagi
akibat perkembangan kondisi yang terjadi pada manusia. Banyak teori lain yang
mengatakan bahwa intelegensi seseorang dipengaruhi oleh genetik. Menurut Bouchard
dan McGue (dalam Sarwono, 2012) menyatakan bahwa Anak yang bersaudara kembar
yang diasuh bersamaan memiliki kaitan genetik sekitar 100% dan kaitan IQ
sekitar 80 daripada anak yang diasuh oleh orang tua angkat dengan kaitan genetik
0% dengan IQ sekitar 30. Dari identifikasi yang dilakukan oleh
Bouchard dan McGue meperlihatkan
bahwa besar pengaruh asuhan orang tua terhadap kemampuan seseorang.
2. Faktor Lingkungan
Kemampuann individu dapat
dipengaruhi oleh lingkungan sesuai dengan aliran empirisme.Salah satu filsuf
Inggris, John Locke menyatakan bahwa manusia adalah tabula rasa, yang mana manusia
sepenuhnya tergantung dari penglaman-pengalamannya.Selain itu, guru besar
psikologi, J.B. Watson menyatakan watak seorang anak dapat dipengaruhi oleh lingkungan
dan pengalaman yang mengisi jiwa mereka.(Sarwono, 2012).Dengan demikian,
Kemampuan yang dimiliki seseorang dapat dipengaruhi oleh lingkungan dan
pengalaman yang telah terjadi.Faktor lingkungan juga dapat beriringan dengan
faktor
genetik. Seperti seorang anak
yang memiliki kecerdasan kedua orang tuanya dan diasuh dengan lingkungan yang
baik akan memiliki kemampuan yang lebih baik daripada yang lain.
i. Bahasa
Bahasa merupakan penggabungan
simbol-simbol yang dapat berupa kata- kata secara sistematis menjadi pernyataan
yang memiliki makna untuk tujuan komunikasi (Ciccereli & White, 2011).
Selain sebagai alat komunikasi, bahasa juga berperan penting dalam aktivitas
mental seseorang. Bahasa berkaitan erat dengan proses berpikir serta bagaimana
manusia memahami lingkungan di sekitarnya. Tanpa bahasa manusia tidak dapat
menunjukkan perasaannya atau memberikan informasi kepada orang lain, memperoleh
pengetahuan dan juga berkerja sama satu sama lain.
Contoh dalam kehidupan
sehari-hari
1. Gambaran
mental adalah penggambaran suatu objek atau peristiwa di dalam pikiran manusia
dengan bentuk yang serupa.
Contoh: ketika
kita di minta untuk menghitung jumlah pintu yang ada di rumah, kita akan
cenderung membayangkan atau membuat gambaran di otak keadaan di dalam rumah,
orang yang memiliki sedikit pintu cenderung lebih cepat menjawab dibanding
dengan orang yang memiliki banyak pintu.
2. Konsep
formal yaitu konsep yang telah diatur dengan aturan tertentu.
Contoh: sebuah
benda disebut lingkaran atau bundar jika tidak memiliki titik sudut
3. Konsep
alam adalah konsep yang dibentuk tanpa aturan tertentu. Konsep alam tidak dapat
didefinisikan dengan baik (kabur).
Contoh: seekor
platipus yang dikelompokkan sebagai hewan mamalia karena ia menyusui anaknya.
Padahal platipus memilki karakteristik seperti burung, yakni bertelur, memiliki
bulu, dan memiliki paruh (Ciccarelli & White, 2011).
Komentar
Posting Komentar