Sensasi dan Persepsi

Sensasi dan Persepsi


1. Sensation

Kata sensasi berasal dari bahasa latin yang menikili arti dianugerahi dengan indra / intelek. Sensasi merupakan aspek sederhana dari hasil indra manusia. Sensasi juga dapat didefinisikan sebagai pengalaman dasar yang terjadi secara cepat, tidam melalui penguraian verbal, simbolis maupun konseptual, serta memiliku hubungan erat dengan aktivitas panca indera (Benyamin B. Wolman : Rahmat, 1973).


Cara Kerja Sensasi


Sensasi terjadi ketika panca indra mengubah informasi ke impuls-impuls saraf yang dapat dipahami oleh otak. Proses masuknya rangsangan dari impuls saraf tersebut dikenal dengan transduksi atau juga disebut pemberi sinyal listrik pada tubuh. Pada proses ini rangsangan masuk berdasarkan indra, lalu dihantarkan lewat reseptor sensoris.


Reseptor sensoris adalah bentuk khusus neuron yang berfungsi sebagai perangsang untuk berbagai energi yang dihasilkan dari kerja sama  alat indra. 


Proses terjadinya sensasi menjadi persepsi

1. Stimulus : bunyi, suhu, cahaya

2. Transduksi: sinyal listrik-impuls saraf

3. Otak Primary Areas: Impuls saraf lalu menjadi sensasi

4. Otak Association Areas: Sensasi yang ada diubah menjadi image yg bermakna (persepsi)

5. Personalized perception: emosi, lingkungan, pengalaman, serta ingatan masa lalu akan menambah persepsi seseorang. Karena hal tersebut, persepsi tidak dapat mencerminkan stimulus aslinya, karna dapat berubah/ distorsi.


2. The Science Of Seeing

Cahaya merupakan paketan gelombang, memiliki ukuran sangat kecil serta mampu dilihat oleh mata (Albert Einstein). Hal ini juga disebut“foton”. Panjang gelonbang cahaya yang bisa ditangkap oleh mata yaitu, 400-700 nm.


Proses yang akan terjadi saat cahaya yang datang dapat diterjemahkan kemudian akan dihantarkan oleh saraf reseptor rangsang yang ada di retina:

- Sel kerucut (cone): butuh cahaya lebih banyak agar bekerja, sangat peka dengan panjang gelombang yang beragam.

- Memungkinkan  untuk melihat beragam warna.

- Sel batang (rod) memiliki kepekaan yang terhadap cahaya, memungkinkan diri kita bisa melihat dalam keadaan gelap dan malam hari


Teori Trikomatrik

- Memiliki hubungan dengan tahap pertama pemrosesan.

- Tempat terjadi: di dalam retina mata.

- Retina mempunyau tiga jenis dasar sel kerucut. yang mana masing-masing memiliki respon maksimal terhadap warna biru, hijau dan merah (masingmasing satu).

- Ribuan warna yang bisa kita lihat adalag kombinasi dari aktivitas ketiga jenis sel kerucut ini.


Teori Opponent Process


Teori ini mengasumsikan ada 3 jenis kerucut. Dari ke tiga jenis kerucut tersebut masing-masingnya merespons dua panjang gelombang yang berbeda (Ewald Hering, 1870). 

- Sel-sel opponent-process merespons dengan cara saling bertentangan terhadap warna hijau merah/biru-kuning.

- respons dalam bentuk pesan pada salah satu warna tersebut dan mematikan respons untuk warna lainnya.

- Negatif afterimage : efek pantulan syaraf – Sel-sel yang aktif atau tidak aktif sebagai respons terhadap warna “hijau” akan mengirimkan pesan yang bertentangan (“merah”) ketika warna hijau ini disingkirkan, dan sebaliknya.


Buta Warna


- Buta warna total, faktor penyebabnya adalah variasi genetik yang menyebabkan sel kerucut di retina berfungsi dengan tidak tepat, atau malah tidak ada sel kerucut sama sekali. Dunia visual hanya terdiri dari warna hitam, putih dan abu-abu.

- Buta warna parsial, tidak dapat membedakan antara warna merah dan hijau



3. The Hearing Sense

Telinga terbagi dari beberapa bagian, yaitu: 

a. Telinga bagian luar (The Outer Ear)

Terdapat organ yang bernama Pinna, yaitu daun telinga. Pinna berfungsi sebagai pintu masuk ke saluran pendengaran menuju membran timpani (gendang telinga).

b. Telinga bagian tengah (The Middle Ear)

Terdiri dari martil (malleus), landasan (incus), dan sanggurdi (stapes).

Telinga bagian tengah akan meneruskan stimulus dari telinga bagian luar. 

c. Telinga bagian dalam (The Inner Ear)

Juga dikenal dengan sebutan jendela oval, telinga bagian dalam terdiri dari struktur yang berbentuk siput yaitu koklea. Koklea berisi cairan. 


Stimulus dapat berupa bunyi yang merupakan getaran udara atau getaran medium lain. Seseorang dapat mendengarnya sebagai bentuk respons dari stimulus tersebut. Bunyi dapat dibedakan menjadi 2, yaitu:

1. Nada, merupakan bunyi yang getarannya teratur.

2. Desah, merupakan bunyi yang getarannya belum teratur.

Pendengaran individu dapat mendengar apa yang mengenai reseptor sebagai suatu respon terhadap stimulus tersebut. Jika individu menyadari apa yang didengar, maka, seseorang dapat mempersepsikan apa yang di dengar, dan terjadilah pengamatan atau persepsi. 


Perceiving Pitch

Pitch atau nada adalah pengalaman psikologis suara yang sesuai dengan frekuensi gelombang suara serta frekuensi yang lebih tinggi dianggap sebagai nada yang lebih tinggi. (Ciccarelli & White, 2018).


1. Place Theory

Menurut teori ini, nada yang didengar seseorang tergantung pada letak sel-sel rambut yang dirangsang di organ korti. Misalnya, jika orang tersebut mendengar suara bernada tinggi, semua sel rambut di dekat jendela oval akan terstimulasi, tetapi jika suara itu bernada rendah, semua sel rambut yang dirangsang akan ditempatkan lebih jauh di organ korti.


2. Frequency Theory

Teori ini menyatakan bahwa tinggi nada berkaitan dengan seberapa cepat membran basilar bergetar. Semakin cepat membran ini bergetar, semakin tinggi nada; semakin lambat getarannya, semakin rendah nada.


3. Volley Principle

Teori ini menyatakan bahwa teori pitch dengan frekuensi nada dari 400 Hz sampai 4000 Hz menyebabkan sel-sel rambut (neuron pendengaran) untuk merangsang dengan pola voli (volley pattern) atau merangsang secara bergantian. (Ciccarelli & White, 2018)


Jenis-Jenis Gangguan Pendengaran


1. Gangguan Pendengaran Konduksi

Mengacu pada masalah dengan mekanisme telinga luar atau tengah dan berarahwa getaran suara tidak dapat diteruskan dari gendang telinga ke koklea.


2. Gangguan Pendengaran Syaraf

Gangguan ini merupakan jenis gangguan pendengaran permanen yang paling umum. Pada gangguan pendengaran saraf, atau gangguan pendengaran sensorineural, masalahnya terletak di telinga bagian dalam atau di jalur pendengaran dan area kortikal di otak


4. Chemical Sense

Indera perasa dan indera penciuman merupakan indera yang meniliki kaitan satu sama lain, ini terjadi karena indera perasa merupakan kombinasi antara rasa dan bau (Ciccarelli & White, 2018).


Indra pengecap

terdapat di lidah, Indera pengecap merupakan sebutan untuk sel reseptor rasa berupa neuron khusus yang ditemukan di mulut yang bertanggung jawab atas indera perasa. Menurut Walgito (2005), terdapat empat rasa pokok:

1. Pahit 

2. Manis 

3. Asin 

4. Asam


Benjolan dalam lidah bernama papilla. Rasa sering dikenal sebagai chemical sense atau indera kimia karena bekerja dengan molekul makanan yang dimakan orang tersebut dan bekerja dengan cara yang sama seperti reseptor saraf pada neurotransmitters. Ketika molekul tersebut larut dalam air liur kemudian selanjutnya masuk ke reseptor, maka sebuah sinyal akan diteruskan ke otak yang kemudian diartikan sebagai sensasi rasa.


Saat seseorang memakan makanan yang panas ke dalam mulutnya, akan terasa seperti adanya sensasi terbakar pada lidah. Pada saat itu terjadi, sel-sel yang rusak tidak akan berfungsi lagi. sel-sel yang rusak tersebut akan diperbaharui dalam 10 sampai 14 hari dan indera pengecap akan kembali berfungsi normal.


Indra penciuman


Indra penciuman adalah indra kimiawi. Menurut Ciccarelli dan White (2018), olfaction atau indera penciuman merupakan salah satu bagian dari chemical senses yang memberikan manusia kemampuan untuk mencium bau yang ada di sekitar.


1. Olfactory Receptor Cells (Sel reseptor penciuman)

Terdapat banyak rambut yang bernama silia. Terdapat reseptor pada sel-sel rambut ini untuk mengirimkan sinyal ke otak saat distimulasi oleh molekul zat yang melewatinya. Ketika seseorang mencium suatu aroma, aroma tersebut akan masuk ke dalam hidung hingga berlanjut ke dalam rongga hidung. Jika reseptor olfactory rusak, maka sel baru akan berganti dalam lima hingga delapan minggu. Tidak seperti indera pengecap yang hanya mempunyai lima rasa dasar, indera penciuman mempunyai setidaknya 1000 jenis bau.


2. The Olfactory Bulbs

Berada diatas rongga sinus di bawah lobus frontal. Sensasi penglihatan, pendengaran, rasa dan sentuhan semuanya akan melewati thalamus dan menuju area korteks yang akan mengolah informasi sensorik tersebut, sedangkan penciuman mempunyai area khusus yang disebut the olfactory bulbs yang akan memproses informasi sensorik dari indera penciuman. The olfactory bulbs ini terletak tepat di atas rongga sinus di setiap sisi otak di bawah lobus frontal. Reseptor penciuman mengirim sinyal saraf mereka ke area olfactory bulbs dengan melewati thalamus. Informasi penciuman kemudian dikirim dari olfactory bulbs ke daerah kortikal yang lebih tinggi, termasuk korteks penciuman primer (primary olfactory cortex), korteks orbitofrontal dan amigdala.



5. Somesthetic Sense

Kulit adalah organ yang ada di tubuh manusia. Selain menjaga agar cairan tubuh tetap masuk dan keluarnya kuman, kulit juga memiliki fungsi lain, yaitu menerima dan mengirimkan informasi dari luar ke sistem saraf pusat, khususnya ke korteks somatosensori. Jenis reseptor sensorik di kulit ada sekitar 6 macam. Misalnya, reseptor sensorik pada ujung saraf yang membungkus ujung folikel rambut peka terhadap sentuhan, suhu dan rasa nyeri. Sedangkan perubahan tekanan akan direspon oleh sel darah pacinian yang berada tepat di bawah kulit.


6. Perception

Persepsi merupakan metode saat otak menerima sensasi yang dialami seseorang pada saat tertentu dan memungkinkan seseorang itu untuk menafsirkan sensasi tersebut. Persepsi merupakan salah satu aspek psikologis. Manusia membutuhkan persepsi untuk peka terhadap apa yang terjadi disekitarnya (Jayanti & Arista, 2018). Setiap individu memiliki sudut pandang yang berbeda saat melihat suatu hal yang sama. Persepsi berkaitan dengan sudut pandang manusia yang dibantu oleh indra lalu ditafsirkan. Kemampuan persepsi ini merupakan fungsi bawaan manusia.



Dalam hukum gestalt, manusia memiliki kecenderungan untuk mengelompokkan objek sesuai dengan elemen atau pola yang sama serta menyederhanakan sesuatu yang kompleks (Indrawati, 2019). Prinsip pengelompokkan ini berdasarkan pada karakteristik tertentu, yaitu :

1. Proximity (kedekatan jarak)

Proximity adalah pengelompokkan objek berdasarkan elemen atau pola yang saling berdekatan.


2. Similarity (kesamaan)

Similarity adalah pengelompokkan objek berdasarkan elemen atau pola yang bentuknya berbeda lalu individu mempersepsikan objek tersebut menjadi satu kesatuan.


3. Closure (penutupan)

Closure adalah merubah persepsi objek garis menyerupai garis-garis yang membatasi atau menutup suatu bidang atau ruang yang dipersepsikan sebagai satu kesatuan.


4. Continuity (kesinambungan)

Continuity adalah kecendrungan untuk mengelompokkan dan memberikan kesan bahwa objek tersebut mempunyai perubahan yang teratur.



-Ilusi merupakan kesalahan persepsi yang mana penyebabnya adalah kekeliruan panca indra dalam penyampaian pesan. Salah satu ilusi visual paling terkenal yaitu ilusi Muller-Lyer. Pada ilusi Muller Lyer terdapat dua garis yang identik (memiliki panjang yang sama) tetapi tampak berbeda. Menurut ilusi ini, sistem visual manusia menafsirkan garis dengan anak panah dilihat seperti kedalaman. Sudut ke dalam memiliki arti jarak yang lebih dekat dan sudut ke arah luar memiliki arti jarak yang jauh. Ilusi ini terjadi ketika adanya perbedaan informasi yang diterima oleh sistem  sensori dengan informasi yang diinterpretasikan dalam pikiran kita.


Contoh aplikasi teori dalam kebidupan:

1. Sel batang (rod) memiliki kepekaan yang terhadap cahaya, memungkinkan diri kita bisa melihat dalam keadaan gelap dan malam hari.


Kucing dapat melihat dengan baik dalam cahaya yang redup sebagian karena mereka memiliki banyak sel batang


2. Chemical Sense

Indera perasa dan indera penciuman merupakan indera yang meniliki kaitan satu sama lain.

Pada saat seseorang terkena pilek dan hidung tersumbat akan mempengaruhi indera pengecapannya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Behaviourisme dan Neobehaviorisme

Pengantar dan Klasifikasi Bidang Psikologi

Sejarah Perkembangan Psikologi