Perkembangan Awal dalam Fisiologi dan Tumbuhnya Psikologi Eksperimen

Perbedaan individu sudah ada sekitar tahun 1784-1846. Di masa Meskelyne berfokus pada waktu reaksi yang dibutuhkan untuk bereaksi terhadap stimulus tertentu, dengan mengamati kecepatan bintang di teleskop. 

Physiologist : ilmu yang mempelajari tentang fungsi bagian tubuh dan keterkaitan sistem saraf dan bagaimana tubuh memproses informasi sehingga menghasilkan sensasi dan persepsi. 


Johannes Muller (1801-1858)

-Adequate Stimulation(sesuai,tepat,cocok), ia berpendapat bahwa masing-masing sistem saraf itu sensitif terhadap stimulasi dengan karakteristik tertentu, namun tidak semua stimulus. Contoh: saat ada gelombang  suara, indra penglihatan dan saraf dimata tidak aktif, dan tidak sensitif terhadap itu. 

-Ketika memahami sensasi harus memahami sistem saraf khususnya sistem saraf pusat, karena sistem saraf pusat yang bekerja dalam menerima sensasi, ia juga menjelaskan sistem saaraf yang mirip dengan 12 fungsi yang disampaikan kant, Muller sangat mempercayai pemrosessan otak yang aktif.


Hermann Von Helmholtz

Ia memiliki cara pandang yang mirip dengan empirisme yang membedakannya Helmholtz lebih mendalami tentang saraf.

-Menurut nya ia memandang manusia sebagai physical and chemical, kita bisa menjelaskan manusia sebagaimana menjelaskan hal-hal lain di dunia

-Ia memandang pentingnya experience bukan innate, ia masuk ke fisiologis karena teorinya terkait energi dan sistem saraf. Energi itu bukan sesuatu yang diciptakan dan bisa musnah, tetapi is energi itu bisa bertransformasi. Contohnya: Makanan dan oksigen, ketika makan, makanan kita akan bertransformasi menjadi oksigen dan sebaliknya, terus mengalir dan bertransformasi(pandangan helmholtz terhadap energi) dan perpindahan, serta pandangannya terkait pergerakan dari saraf(kecepatan dari stimulus yang ada di saraf), ia meneliti tentang motorik kemudian ia menemukan bahwa semakin dekat dengan otot, saraf( si stimulusnya) semakin cepat jalannya informasi di dalam sistem saraf. Kecepatan rata-ratanya 50,3-100,6 meter per detik ( namun banyak perbedaan karena setiap manusia berbeda-beda)

-Teori tentang warna (Trichromatic Theory)

ada 3 reseptor warna di indra kita, yaitu merah, hijau dan biru-violet. Kita bisa melihat warna lain karena bisa jadi dari ketiga warna tersebut ada yang aktif secara bersamaan, misalnya reseptor(berbentuk tabula) merah terstimulasi, teseptor biru juga terstimulasi akhirnya menciptakan warna ungu. Menurut nya ke tiga warna ini lah yang membantu kita dalam mempresepsikan warna. Ia menambahkan terkait pendengaran, pendengaran tidak melibatkan hanya satu nerve fiber (jaringan saraf) tetapi juga banyak , karena ketika mendengar suara kita juga mendengar tone, volume, intonasi dan lain-lain yg diatur fiber lainnya. Contoh: Longer fibers lebih sensitif terhadap frekuensi suara yang rendah.


Ewald Hering (1834-1918)

Ia mencoba mengembangan teori Helmholtz terkait warna, menurutnya juga ada 3 reseptor warna tapi, berbeda dengan helmholtz yang berpendapat satu reseptor warna sensitif terhadap warnanya saja, sedangkan menurut hering pada reseptor warna(berbentuk tabula) jika dikutub atas sensitif  terhadap warna merah maka kutub bawah sensitif terhadap warna hijau. Ia menambah teori tersebut karena ia melihat ada peristiwa yang bernama “After Image”  misalnya ketika kita melihat bendera amerika lama-lama kita melihat ada warna merah kemudian kita pusatkan perhatian kita untuk melihat warna merah tersebut, kemudian kita melihat di tempat kosong berwarna putih, yg terlihat dari kita memindahkan stimulus merah tadi ke tempat yang kosong berubah warnanya menjadi hijau( terpantulkan warna nya ), Ketika merah digunakan, saat dialihkan akan menghasilkan stimulus yg dibawahnya(warna hijau), ketika warna merah terlalu dipakai lama maka akan terlihat warna hijau karena sebenarnya mereka satu reseptor begitupula seterusnya. Menurutnya satu reseptor memiliki sensitif terhadap dua warna. 

-Terkait antara persepsi jarak dan waktu

ia percaya dengan innate( kemampuan bawaan), karakteristik dari mata merupakan suatu bawaan, jadi retina tidak belajar dari pengamatan bagaimana cara mempresepsikan kiri dan kanan ,kedalaman, tinggi dan rendah, itu semua merupakan kemampuan bawaan

Beberapa tahun kemudian,mulai ada yang terkait untuk menjelaskan karakteristik tertentu dari individu seperti dari bentuk wajah,tubuh, kebiasaan,dll. Ada yg namanya phrenology yang tertarik terhadap bentuk dari tengkorak kepala. 


Franz Joseph Gall

Di tengkorak kepala ada lengkungan atau benjolan(balm atau protrusion), ketika menggunakan otak(facultynya) secara terus menerus akan membentuk tonjolan atau benjolan, sedangkan tidak digunakan akan membentuk lengkungan. Namun penelitian ini banyak yang mengkritik karena penelitian ini tidak didukung teknologi. 


Paul Broca (1824-1880)

-Teori Area speech production

Broca banyak menghadapi pasien apasia, yang memiliki gangguan berbicara(tidak bisu) kesulitan untuk memproduksi bahasa, ketika sudah meninggal ia melakukan autopsi pada otak pasien tersebut, ia melihat ada polany,ternyata ia meilihat kerusakan pada bagian hemisfer kiri, lalu ia berkesimpulan bahwa area itu merupakan area untuk memproduksikan bahasa/kata, ia juga menjelaskan bahasa ada ekpresif dan komprehensif yang mana di proses pada bagian otak yang berbeda, jadi ketika memproduksikan kata kita belum tentu dapat memahaminya karena di proses pada bagian yang berbeda. Kemudian ia menamakan area yang ditemukannya tadi menjadi “Area Broca” yang menjelaskan kemampuan bahasa. ( dianggap relevan hingga sekarang)

namun ia juga mencoba mengukur otak dan membandingkan otak orang lain, sehingga dia memiliki kesimpulan bahwa semakin besar otak manusia maka semakin cerdas, namun banyak dibantah dengan banyak orang lain.

Ditambahkan oleh Corl Wernickle(1848-1905) bahwa ia juga meneliti di area sekitar broca, jika yang memproses bahasa berbeda, berarti ada bagian lain yang mengatur komprehensi(pemahaman), kemudian setelah diteliti olehnya ia menemukan pada orang yang memiliki gangguan pada pemahaman bahasa(pemroses bahasa) ada kerusakan dibagian kortikal area yang dinamakan”wrinckle area”(sampai kini relevan)


Area Eksperimental

Ernest Heinrich Weber

ia merupakan salah satu yang melakukan eksperimen secara tertata dibagian psikologis, ia sangat tertarik indra peraba dan otot

-Two point threshold, apakah tubuh kita bisa mendeteksi ketika ada dua stimulus hadir secara bersamaan, jarak minimal tubuh dapat merasakan dua stimulus berbeda

-Just noticeable difference (jnd): Weber’s law

Bagaimana tubuh menentukan adanya perubahan stimulus(ada dua stimulus yang terjadi berbeda) bisakah tubuh mendeteksi perbedaannya,contoh: cahaya, saat menghidupkan lampu 1 dan 2 apakah ada perbedaan saat melihanya seperti lebih terang atau redup, atau saat memikul berat, yang pertama 1kg yang kedua 1,1kg apakah tubuh dapat merasakan/mendeteksi perbedaan tersebut(berapa minimal tubuh kita dapat mendeteksi perbedaan)


Gustav Theodor Fechner(1801-1887)

Ia mencoba menambahkan dari teori Weber, ternyata dalam mendeteksi 2 rangasangan, kita tidak bisa menetapkan satu standar khusus tadi, pada diri individu bisa berbeda(ia mencoba mengembangan teori jnd Weber), menurutnya saat kita menjelaskan jnd individu ada satu hal yang perlu diperhatikan, yaitu intensitas stimulus/magnitud karena akan berbeda tiap individu, contohnya saat berada di ruangan sunyi seperti di perpustakaan kita dapat mendengar orang membalik halaman buku dengan bunyi beberapa desibel,sedangkan dikeadaan ramai seperti di tempat kondangan kita sedikit sulit mendeteksi perubahan besar/kecilnya suara dan kita perlu lebih besar jnd nya, mungkin harus dibesarkan beberapa desibel stimulus kedua agar dapat mendeteksi perubahannya. Contoh lain ketika ditempat gelap kita cenderung cepat mendeteksi cahaya walaupun hanya seberkas, sedangkan saat diruangan yang terang ketika ditambahlagi cahaya kita cenderunh kurang/tidak peka untuk mendeteksi perubahannya, harus ditambah intensitasnya pada stimulus kedua agar kita dapat mendeteksi perubahaannya(jnd harus lebih besar, ketika jnd terapapar intensitas yang tinggi, dan sebaliknya) sangat berkaitan dengan stimulus awalnya(seberapa intens)

-Teori Pansychism

Ia sangat percaya adanya prosesmental, kemampuan berpikir,kesadaran (consiousness) dalam setiap makhluk, tidak bisa memisahkan antara makhluk dan mind.

-Teori Psikofisika(Paychophsycis)

Adanya keterkaitan antata stimulus dan psikologi, ada pertimbangan  jenis intensitas stimulus akan mempengaruhu bagaimana mempresepsikan perubahan dalam jnd.(keterkaitan mind and body)

-Absolute threshold

Berbeda dengan Two point threshold yang membahas tentang bisa atau tidakny tubuh mendeteksi stimulus secara bersamaan,Absolute Threshold (minimal supaya masuk kedalam threshold/kesadaraan)membahas intensitas/seberapa dekat/jauh kita dapat mendeteksi stimulus(incrase/decrease). Ketika tidak masuk kedalam Threshold/kesadaran ia menamakan dengan negative sensations. Cara ia menentukan differential threshold dengan seberapa bisa kita untuk mendeteksi perbedaan yng menggunakan 3 metode dalam eksperimennya, yaitu:

Limit: Ia melakukan eksperimen pada kelompok yang disuruh untuk mendeteksi range pernedaan antara stimulus 1dengan2, participants diminta untuk memperkirakan rangenya

Constant Stimuli: Diminta untuk menyampaikan apakah ada persamaan/perbedaan/lebih besar/lebih kecil

Adjustment: Diminta untuk melakukan adjustment, dengan adanya stiimulus A&B, apa yang harus dilakukan agar stimulus A dan B sama, untuk mengetahui ada perbedaan atau tidak.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Behaviourisme dan Neobehaviorisme

Pengantar dan Klasifikasi Bidang Psikologi

Sejarah Perkembangan Psikologi